Denpasar

Seminar Protokol Kesehatan Seni Pertunjukan di Masa Pandemi

    DENPASAR, Kilasbali.com – Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar diharapkan membentuk tim kecil untuk membahas protokol kesehatan yang akan diterapkan dalam pertunjukan seni. Dengan demikian, maka format protokol kesehatan tersebut bisa digunakan dalam industri pariwisata sebagai bagian yang nantinya diterapkan dalam lingkungannya.

    Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dalam seminar Menata Ulang Format Gelar Seni Pertunjukan Masa Pandemi Covid-19 Tahun 2020, di Gedung Citta Kelangen, ISI Denpasar, Kamis (18/6/2020).

    “Mengingat semenjak adanya masa pandemi Covid-19 ini, ada beberapa protokol kesehatan yang harus kita taati, untuk itu bagaimana dengan kesenian yang mana dalam pergelarannya melibatkan masa yang banyak dan tentunya dengan berbagai riasan yang harus digunakan, ini perlu kita diskusikan bersama,” ujarnya.

    Cok Ace yang juga sebagai Guru Besar di ISI Denpasar mengatakan, protokol kesehatan di bidang seni tersebut dapat diatur oleh para ahli seni dengan tetap mengutamakan taksu dari seni tersebut.

    Baca Juga:  Realisasi Pajak Daerah Pemkot Denpasar 29,16 Persen pada Triwulan I 2024

    “Dengan demikian, maka protokol seni tidak diatur oleh pariwisata, namun protokol seni yang diatur oleh ahli kesenian itu sendiri,” ungkapnya.

    Untuk itu, Cok Ace meminta masukan dari para pelaku seni, khususnya terkait protokol kesehatan dalam bidang kesenian pertunjukan.

    “Saya ingin pertunjukan yang diberikan nanti memiliki taksu namun juga aman, pengunjung aman dan para seniman juga aman, jadi kita harus pikirkan ini secara bersama dan serius,” pungkasnya.

    Baca Juga:  Pemkot Denpasar Anggarkan Rp3,250 M Dukung Duta PKB XLVI

    Sementara itu budayawan, Prof. Dr. I Wayan Dibia menyampaikan bahwa format seni pertunjukan harus segera ditemukan, mengingat semenjak adanya pandemi Covid-19 telah menjungkirbalikan berbagai kebiasaan-kebiasaan yang selama ini berlaku di jagat seni, khususnya dalam seni pertunjukan.

    Menurutnya seni pertunjukan juga merupakan seni komunikasi antara pelaku dan penonton. Untuk itu jika komunikasi ini dihilangkan maka taksu seni tersebut akan hilang.

    Untuk itu, ia menyampaikan beberapa sumbangan pikiran terkait format baru dalam seni pertunjukan. Pertama, format seni pertunjukan masih tetap dilakukan secara live namun dengan protokol kesehatan yang ketat.

    Baca Juga:  Penyineban Karya IBTK Tahun 2024, Pj Gubernur Bali Nuek Bagia Pula Kerti

    Kedua, dalam kondisi ini materi dari kesenian tersebut harus sedikit di rumah seperti dalam pertunjukan kecak, calonarang dan lainnya agar menyesuaikan protokol kesehatan, dan ketiga bentuk pementasan bisa secara langsung ataupun virtual sehingga masih tetap ada komunikasi dengan para penonton.

    Dalam acara tersebut juga menghadirkan narasumber lainya yaitu Assistant Show and Entertainment Manager Bali Safari and Marine Park Kadek Agus Ardana, serta beberapa peserta yang merupakan para pakar kesenian yang juga memberikan masukan dalam diskusi tersebut.

    Selain itu juga dilakukan peluncuran buku “Purana Seni Perjalanan Panjang Berliku” oleh Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Gede Arya Sugiartha.(rls/kb)

    Back to top button

    Berita ini dilindungi