Denpasar

Percepat Penanganan Covid-19 dengan Test Secara Massif

    DENPASAR, Kilasbali.com – Peningkatan angka kasus Covid-19 di Kota Denpasar memang memberikan rasa khawatir di masyarakat. Namun masyarakat diminta tidak langsung menyimpulkan bahwa penyebaran ini tidak terkendali.

    Hal ini dikarenakan wilayah yang terdapat pasien positif Covid-19 sudah langsung diisolasi oleh Satgas Desa/Kelurahan. Kendati wilayah desa berwarna merah, bukan berarti seluruh wilayahnya terjangkit, melainkan hanya titik tertentu dan sudah langsung ditracing serta diisolasi.

    Demikian diungkapkan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Denpasar, dr. I.G.A Ngurah Anom, MARS di Denpasar, Rabu (8/7/2020). Menurutnya kondisi ini wajar bila hanya melihat angka dan membandingkan angka tersebut dengan wilayah sekitar.

    “Meningkatnya kasus positif secara signifikan merupakan akibat terdeteksinya kasus positif berkat kebijakan tes swab yang dilakukan secara masif. Di mana, tes secara masif ini berkaitan dengan upaya untuk mengendalikan penyebaran covid-19 di Denpasar,” ujarnya.

    Baca Juga:  Penyineban Karya IBTK Tahun 2024, Pj Gubernur Bali Nuek Bagia Pula Kerti

    Dengan diketahui siapa yang positif, lanjut dia, maka akan diketahui juga siapa siapa yang (dicurigai-red) berpotensi akan terkena ataupun menularkan covid (OTG, ODP, dan PDP) melalui tracing kontak.

    Jadi langkah yang diambil Pemkot Denpasar dalam menangani covid sudah benar, yakni melakukan test secara masif dan tracing secara agresif, namun hal ini harus dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat di masyarakat,” jelasnya.

    Pihaknya menyatakan keberhasilan tracing dan kejujuran orang yang positif akan menentukan terkendali atau tidaknya penyebaran Covid-19 di Denpasar. Kasus positif yang diketahui rekam jejaknya akan mempermudah penanganan sehingga penyebarannya dapat dikendalikan demikian pula sebaliknya.

    Baca Juga:  PLN Bali Siap Sambut Arus Balik, Siaga dan Waspada di SPKLU

    “Terjadinya kasus positif yang tidak diketahui sumbernya, besar kemungkinan dapat terjadi akibat kurang maksimalnya kinerja dalam mentracing yang juga dipengaruhi oleh ketidakjujuran orang yang positip dalam memberikan keterangan, jadi kejujuran masyarakat sangatlah penting,” ujarnya.

    Terhadap Kasus positif yang tidak diketahui sumbernya, dr. Anom menegaskan bahwa hal ini perlu mendapat perhatian lebih karena memiliki potensi penyebaran covid yang tidak dapat dikendalikan.

    “Kami sarankan jika masih ada kasus positif yang belum ditemukan sumber penyebaranya, agar melaksanakan karantina wilayah, karena sejauh ini karantina wilayah menjadi alternatif terbaik untuk memutuskan kasus dengan kondisi pasien positif yang tidak diketahui sumbernya,” pungkas dr. Anom. (sgt/kb)

    Back to top button

    Berita ini dilindungi