Gianyar

Sengketa Lahan Desa Adat Guwang, Gugatan Tak Dikabulkan

GIANYAR, Kilasbali.com РPerkara tanah antara Desa Adat Guwang, yang hampir setiap pekan menyita perhatian akhirnya diputus oleh PN Gianyar. Hasilnya, Gugatan I Ketut Gde Dharma Putra, ditolak untuk seluruhnya, yang artinya  para tergugat, yakni Desa Adat Guwang  Perbekel Guwang dan Pemkab Gianyar memenangkan perkara tersebut. Hal itu terungkap dalam putusan sidang secara online.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Gianyar, Kamis (20/1), Erwin Harlond, mengatakan, sidang dipimpin oleh ketua majelis Erwin Harlond P, SH., MH., dan anggota A.A Putra Ariyana, SH., Astrid Anugrah, SH., M.Kn., menurut majelis hakim bahwa penggugat tidak dapat membuktikan dalil gugatannya mengenai kepemilikan tanah sengketa namun sebaliknya tergugat mampu membuktikan dalil gugatan baliknya bahwa tanah sengketa adalah milik desa adat guwang yg dikuasai lebih dari 100 tahun tanpa ada keberatan oleh pihak manapun.

“Tidak bisa membuktikan kepemilikan¬† pipil. Tapi pipil bukan sebagai bukti kepemilikan atas tanah harus didukung oleh bukti yang lainnya. Misalnya sporadik penguasaan fisik tanah dll,” jelasnya, Kamis (20/1/2022).

Baca Juga:  Turnamen Ceki Kembali Marak

Sementara, Bendesa Adat Guwang, Ketut Karben Wardana, bersama kuasa hukumnya, I Made Adi seraya, Made Duana, Kadek Agus Mudita, i Wayan subawa, mengatakan sesuai putusan amar putusan yang di upload, gugatan penggugat seluruhnya di tolak. satupun dalil tidak bisa dibuktikan.

“Sebaliknya rekonvensi kami dikabulkan. Kami gugat balik, tanah desa di atas isi kantor desa, LPD dan pasar Tenten sudah bersertifikat. Tanah SD juga dinilai sah. Itu dikabulkan rekonvensi,” ujarnya.

Namun sebagian rekonvensi (gugatan balim) yang tidak dikabulkan adalah ganti rugi Rp 100 miliar. Gugatan balik ini dilakukan karena masyarakat terancam, terintimidasi takut kehilangan pasar. “Hanya meteriil fakta di sidang yang dikabulkan. Ada 62 bukti surat, ada 3 sertifikat asli, 7 orang saksi ahli,” ujarnya.

Baca Juga:  Informasi Bahan Baku Utama Dalam Mengeksekusi Keputusan

Ditambahkannya, penguasaan adat tidak harus lewat sertifikat, karena sudah digunakan bersama dan turun temurun. “Belakangan 2017, pemerintah melalui Menteri Agraria bahwa desa adat bisa terbitkan sertifikat. maka banyak yang sertifikat kan tanah PKD. itulah kenapa baru disertifikatkan, itu alasannya,” terangnya.

Namun pihaknya mengakui Ini belum inkrah. Masih ada waktu 14 hari, penggugat ada upaya hukum, apakah banding atau tidak. Kalau kami sudah selesai. “Kalau mereka banding, kami siap puputan, walaupun banding, kasasi, siap kawal sampai tuntas,” tandasnya. (ina/kb)

Berita Terkait

Back to top button