Tim Gila Selingkuh Antisipasi Lonjakan Sampah

Denpasar Sosial
Foto/ist: Sampah sisa upacara di sungai

DENPASAR, Kilasbali.com – Yayasan Tukad Bindu dengan Tim Gila Selingkuh (Giat Lestarikan Alam Selamatkan Lingkungan) selalu konsen menyikapi lonjakan sampah. Khususnya mengantisipasi lonjakan sampah sisa upacara yadnya di Kota Denpasar.

Kegelisahan permasalahan sampah itu dicarikan solusi dengan duduk bersama melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan di Taman Jati Tukad Bindu Kesiman, Minggu 20 Maret 2022. FGD ini juga untuk menyambut hari ulang tahun ke 5 yayasan ini.

FGD bertema “Apakah Benar Panca Yadnya Salah Satu Faktor Penyebab pencemaran Lingkungan dan Kerusakan Lingkungan?”, dihadiri narasumber dari PHDI Kota Denpasar, Dinas Kebudayaan dan Ratu Guru Ida Bagus Putu Adriana dari Pasraman Ghanta Yoga.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Raka Purwantara menyampaikan, Panca Yadnya yang dilaksanakan oleh Umat Hindu harus benar-benar punya daya dukung dengan lingkungan. “Jangan sampai dalam pelaksanaan yadnya terlalu berlebihan.Yang lebih diutamakan sejatinya keikhlasan dan setelah pelaksanaan yadnya, jangan sampai merusak dan mencemari lingkungan terutama sumber-sumber air, sungai, danau dan laut,” jelasnya.

Lanjutnya, mengingat sudah ada aturan tentang pengelolaan sampah yang berbasis sumber, maka sampah sudah harus terpilah. Karena, daya tampung TPA terbatas. Bahlan beberapa TPA di Kota Denpasar per bulan Mei akan ditutup.

Sementara itu, I Made Arka selaku sekretaris PHDI Kota Denpasar menyampaikan, saat melakukan persembahan atau yadnya, janganlah terlalu berlebihan, beryadnya sesuaikan dengan kemampuan disertai dengan keikhlasan. “Dasar Panca Yadnya itu menjaga keseimbanagn dalam eko sistem,” imbuhnya.

Baca Juga:  TP PKK Bali ‘Menyapa dan Berbagi’ di  Bumi Makepung Jembrana

Dia menambahkan, beberapa sarana yang masih bisa dan layak dipakai dalam beryadnya, jangan dibuang karena masih dapat dipergunakan kembali dengan memberikan percikan Tirta Prayascitta sehingga dapat mengurangi sampah yadnya yang selama ini sering dijumpai di tengah masyarakat.

Lebih jauh Ratu Guru Ida Bagus Putu Adriana dari Pasraman Ghanta Yoga membeberkan, dalam sastra tidak tersurat, tidak ada yang mengatur tentang sampah yadnya setelah prosesi yadnya dilakukan.

Karena itu, lanjut dia, perlu sebuah sikap bersama sehingga yadnya yang laksanakan tidak mencemari dan merusak lingkungan. “Perlu dibangun kesadaran masyarakat untuk disiplin mengelola sampah-sampah upacara yadnya,” imbuhnya.

Baca Juga:  Hadirkan Duta Besar India, Mahasiswa STMIK Primakara Ikuti Journey of India Dominating The Technology World

Dia mencontohkan, jika harus melarung ke laut cukup dengan disimbol saja. Kalau sudah sawa itu diupacarai maka wajib dihayutkan ke segara. Hanya tulang dan abunya dihayutkan ke laut, bukan upacaranya.

Dia menjelaskan, dalam mencari solusi dan formula yang tepat serta memenuhi etika dan etik dalam pelaksanaan yadnya guna mendokan agar alam beserta isinya menjadi seimbang, menghindari sumser- sumber air tercemar, sarana upakara setelah dipuput mesti dapat dikondisikan secara jelas, apakah dianggap sampah sisa upakara.

Baca Juga:  Projo Gianyar Sterilisasi Provokasi dan Gerakan Anarkisme 

“Yang hendak dicapai setelah FGD hasilnya bisa membangun keselarasan dalam beryadnya dengan konsep Tri Hita Karana , Tri Kaya Parisuda. Harapan lainya bisa menjadi rujukan/ acuan bagi masyarakat dalam menjaga lingkungan serta ada perubahan prilaku,” papar I Gusti Rai Aritemaja (Gung Nik) dari Yayasan Tukad Bindu. (mnk/kb)