VoA dan Bebas Karantina, DTW Menggeliat

News Update Tabanan
Foto; Objek wisata Tanah Lot menjadi salah satu tempat favorit yang dikunjungi wisatawan Tiongkok.

TABANAN, Kilasbali.com – Kebijakan Visa on Arrival (VoA) dan bebas karantina menjadi ‘angin segar’ bagi industri pariwisata di Bali. Dampak kebijakan itu pun mulai terlihat. Salah satunya daya tarik wisata (DTW) di Kabupaten Tabanan mulai menggeliat.

Lonjakan kunjungan diyakini akan terus berlanjut seiring dengan sejumlah negara yang mulai mengizinkan warganya untuk bepergian ke luar negeri dalam waktu dekat ini.

Kepala Divisi Promosi dan Pengembangan DTW Tanah Lot, Ni Made Suarniti, menyampaikan, wisatawan mancanegara mulai terlihat di objek wisata yang menawarkan pura di tengah laut. Khususnya saat menikmati matahari terbenam alias sunset.

“Sejak minggu lalu naik menjadi 50 orang per hari. Kalau sebelumnya hanya 30 orang,” tuturnya, Selasa (22/3).

Dikatakan, wisman yang datang itu diantaranya berasal dari Belanda dan Malaysia. Sedangkan kedatangan wisatawan dari Australia, yang sebelumnya selalu mendominasi, kemungkinan baru terjadi pada April mendatang.

Dari informasi yang dia dapatkan, Australia bakal memperbolehkan warganya ke luar negeri pada April nanti.

Baca Juga:  Polres Tabanan Ringkus Tujuh Tersangka Penyalahgunaan Narkoba

”Saya tahu itu dari informasi sejumlah organisasi kepariwisataan di Bali,” tegas Suarniti.

Terkait wisatawan domestik (wisdom), Suarniti menuturkan mencapai 1.300-an per hari.

“Peningkatan kedatangan wisdom ini dipicu kebijakan bebas tes berbasis PCR dan tes antigen. Mereka adalah rombongan wisatawan dari Jawa Timur, dan Jawa Tengah,” tandasnya.

Di tempat terpisah, Manajer DTW Jatiluwih I Made Sutirtayasa berharap tidak sekadar membuka kunjungan, pemerintah harus memiliki terobosan atau inovasi agar optimal mendatangkan wisatawan ke Bali.

Baca Juga:  Dukung Pogram Pemerintah, Sidokkes Polres Tabanan Gelar Gerai Vaksin

Menurutnya, meski Bali sudah punya nama di luar negeri sebagai daerah tujuan wisata. Kendati demikian, pihaknya mengingatkan untuk tidak lupa dengan  saingan dari negara lain juga cukup ketat.

“Kalau hanya aturan dengan membuka dipikir bisa membuat wisman ramai, ya tidak mungkin jika tanpa didukung kegiatan atau inovasi oleh pemerintah,” tegas Sutirtayasa.

Lanjutnya, peran pemerintah menjadi sangat penting dan dinanti-nanti oleh pelaku pariwisata di Tabanan maupun Bali.

Baca Juga:  "Menyapa dan Berbagi" di Kabupaten Lumbung Beras Bali

“Kalau hanya mengandalkan akomodasi pariwisata, maka kecil peluang bagi pelaku pariwisata untuk menarik wisatawan karena di atas 60 persen para pelaku pariwisata berada dalam kondisi ibaratnya hidup segan mati tak mau,” tandasnya.

Seperti diketahui, akibat mewabahnya SARS-CoV-2 ini, Bali yang mengandalkan perekonomian dari sektor pariwisata sangat terpuruk. Karena tak ada wisatawan yang datang.

Dengan kebijakan terbaru berupa VoA, bebas karantina, dan bebas rapid tes khususnya bagi pelaku perjalanan dalam negeri, diharapkan mampu membangkitkan kembali pariwisata setelah hampir dua tahun ‘mati suri’, tepatnya sejak medio Maret 2020. (jus/kb)