Minyak Mahal, Masyarakat Olah Kelapa Jadi ‘Tandusan’

News Update Tabanan
Foto/ist: Proses pengolahan kelapa menjadi minyak tandusan

TABANAN, Kilasbali.com – Minyak goreng mahal di pasar. Menyikapi hal itu, masyarakat pun menyiasati kebutuhan itu dengan kembali ke tradisioanal. Yakni mengolah kelapa menjadi minyak, yang lebih dikenal dengan minyak ‘tandusan’.

Seperti yang dilakukan kelompok wanita tani (KWT) Buana Sari Gadungan, Selemadeg Timur, Tabanan. Kelompok usaha rumahan ini mengolah buah kelapa yang diserap dari petani sekitar desa menjadi minyak tandusan hingga virgin coconut oil (VCO).

Anggota KWT Buana Sari Gadungan Nengah Suarjana menuturkan, pembuatan minyak dari buah kelapa bukan karena malahnya harga minyak goreng saat ini, melainkan mengolah buah kelapa menjadi minyak tandusan sudah dilakoni sejak lama sebelum harga minyak mahal.

Baca Juga:  Wahana Edukasi Alam dan Tumbuhan Langka Kesiman Petilan

“Sudah lima tahun KWT ini mengolah buah kelapa menjadi minyak tandusan dan VCO,” kata Nengah Suarjana yang juga sebagai marketing VCO.

Naikknya harga minyak goreng yang melambung tinggi, menurutnya tak membuat dirinya kalang kabut seperti yang diberitakan di media massa. Ini karena dirinya bersama gerakan masyarakat kewirausahaan terpadu KWT secara mandiri dan bersama-sama membuat minyak tandusan.

“Tidak urusan kami mau minyak goreng harganya mahal atau tidak, karena kami terbiasa membuat minyak tandusan selain untuk kebutuhan rumah tangga di rumah. Juga untuk dijual di pasar-pasar tradisional,” ungkapnya.

Baca Juga:  Terseret Arus, Pelajar Ditemukan Meninggal

Untuk buah kelapa selain diserap secara langsung dari petani yang ada di sekitar desa, juga buah kelapa dengan memanfaatkan buah hasil daksina atau lungsuran upacara. Begitu pula pekerja dari ubu-ibu rumah tanggan desa dan muda-mudi yang di desa dengan sistem padat karya.

“Jadi ketimbang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Itu yang kita beli sehingga diolah menjadi minyak tandusan dan VCO,” jelasnya. (m/kb)