Stunting Akibat Kekurangan Gizi kronis dan Infeksi Berulang

Denpasar Tokoh
Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace). (foto/kilasbali)

DENPASAR, Kilasbali.com – Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) mengungkapkan bahwa stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada dibawah standar.

 

 

“Bukan semata mata karena ukuran fisik pendek tapi lebih kepada konsep bahwa proses terjadinya stunting bersamaan dengan proses terjadinya hambatan pertumbuhan dan perkembangan organ lainnya, termasuk otak,” Kata Cok Ace saat membuka acara Kegiatan Rapat Koordinasi Teknis Kemitraan Program Bangga Kencana Tingkat Provinsi Bali, bertempat di Kantor BKKBN Provinsi Bali, Denpasar, Selasa (29/3).

 

Baca Juga:  Revolusi Mental Penanaman 10 Juta Pohon

 

Menurutnya, berbagai hambatan yang dihadapi saat pelaksanaan kegiatan di lapangan seperti belum optimalnya koordinasi penyelenggaraan intervensi gizi spesifik maupun intervensi gizi sensitif di semua tingkatan hendaknya mampu diminimalisir melalui koordinasi integrasi dan konvergensi.

 

 

“Dalam mencapai tujuan yang dimaksud, BKKBN memerlukan dukungan, koordinasi dan kolaborasi dengan seluruh pemangku kebijakan serta stakeholder dan mitra kerja lainnya,” kata Cok Ace.

 

Baca Juga:  "Menyapa dan Berbagi" di Kabupaten Lumbung Beras Bali

 

Cok Ace yang juga Ketua Tim Percepatan Penanganan Stunting di Provinsi Bali, mengatakan bahwa melalui Rakornis Kemitraan tersebut diharapkan dapat menjadi momentum refleksi sekaligus mampu konsisten menurunkan prevalensi stunting dari 14,4% pada tahun 2019 menjadi 10,9% pada tahun  2021 terlebih target stunting pada tahun 2024 Provinsi Bali sebesar 6,15%.

 

Baca Juga:  Ini Aturan Perjalanan Domestik dan Internasional di Bali

 

“Strategi pelaksanaan program Bangga Kencana Tahun 2022 harus disusun dan dikembangkan dalam bentuk operasional nyata serta memiliki output yang terukur, seperti rencana aksi nasional percepatan penurunan stunting (Ran Pasti) dengan menajamkan intervensi dari hulu melalui prioritas mencegah lahirnya anak stunting, operasional tim pendamping keluarga (TPK) serta target kinerja lainnya,” tandasnya. (jus/kb)