Banjar Creative Space di Jembrana, Erik Tohir Bantu UMK Bumi Makepung 

Jembrana News Update
Pembinaan Unit Mikro Kecil (UMK) di 'Bumi Makepung' Kabupaten Jembrana. (jus/kb)

JEMBRANA, Kilasbali.com – Bertahan di tengah pandemi Covid-19 terus dilakukan melalui pelatihan Banjar Creative Space. Dengan pelatihan ini, diharapkan para UMK bisa mandiri menghadapi dampak menurunnya ekonomi akibat virus Corona ini.

Dengan bantuan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) yang juga di sebut CSR, Menteri BUMN Erick Thohir memberikan bantuan kepada pembentukan dan pembinaan Unit Mikro Kecil (UMK) kepada 2 banjar adat di ‘Bumi Makepung’Kabupaten Jembrana.

Hari ini, Rabu (30/3), Bupati Jembrana di wakili oleh Kadis PMD Nyoman Supriadi membuka pelatihan Banjar Creative Space untuk Banjar Yeh Buah, Desa Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana bertempat di Anjungan Cerdas Rambutsiwi.

Pembukaan Banjar Kreatif tersebut juga dihadiri oleh COO BITHUB atau Ketua STIMIK Primakarya I Made Artana, Pembina Banjar Creative Space yang juga Wakil Ketua DPRD Jembrana I Wayan Suardika.

Pembukaan pelatihan Banjar Creative Space ini yang kedua setelah Banjar Adat Bilukpoh. Kabupaten Jembrana merupakan satu-satunya Kabupaten yang mendapat 2 jatah Banjar Creative Space.

Saat dikonfirmasi awak media COO BITHUB atau Ketua STIMIK Primakarya I Made Artana mengatakan, dibukanya Pelatihan Banjar Creative Space untuk Banjar Yehbuah merupakan kedua kalinya setelah Banjar BilukPo.

Baca Juga:  Vakum Dua Tahun, Bali Spirit Festival Kembali Digelar

“Pelatihan banjar kreatif ini sebenarya dilakukan di balai banjar, memanfaatkan balai banjar itu bukan hanya sebagai tempat untuk kegiatan adat, sosial dan keagamaan, akan tetapi sebagai tempat belajar berlatih dan bahkan memulai bisnis kepada warganya,” terangnya.

Sekarang merupakan jaman teknologi, lanjut Artana, masyarakat harus menyesuaikan diri dengan kondisi sekarang, dibutuhkan banyak berlatih dan belajar bisnis sehingga relevan terhadap kondisi saat ini.

“Perubahan seperti inilah kita bawa ke balai banjar, sehingga teman-teman yang ada di banjar tetap relevan. Kita mempunyai 2 program yang dijalankan di Banjar Creative Space diantaranya, yang pertama, pengembang produk banyak produk yang sudah ada di banjar, kita disini membuat produk tersebut siap memasuki pasar diluar,” jelasnya.

Untuk program yang kedua, imbuh Artana, digital marketing, mempunyai banyak produk akan tetapi tidak pintar menjual, itu juga menjadi masalah tersendiri. “Salah satu program pokok kita di Banjar Creative Space adalah digital marketing dan penjualan online. Kabupaten sangat special mendapatkan 2 jatah banjar sementara di kabupaten lainnya hanya mendapatkan 1 jatah,” pungkasnya.

Baca Juga:  Program Pengungkapan Sukarela Tinggal 1,5 Bulan Lagi

Sementara itu, Bupati Jembrana yang diwakili oleh oleh Kadis PMD Nyoman Supriadi mengatakan, bapak bupati sangat mengapresiasikan adanya Banjar Creative Space, dengan adanya pelatihan ini diharapakan UMKM kecil yang ada di banjar-banjar bisa bangkit kedepannya sehingga produk yang sebelumnya hanya ada di banjar tersebut bisa diperkenalkan dan bisa memasuki pasar luar.

“Pemkab Jembrana sangat mendukung kegiatan ini, sesuai visi misi bapak bupati, dukungan untuk Banjar Creative Space nantinya agar sebagai penunjang diera teknologi digital kedepan, kita punya program 1 banjar 1 wifi, masing-masing banjar aka nada wifi, kemudian kita juga membentuk Kader Desa Mandiri Bahagia. Kita berharap nanti kader tersebut memberikan support untuk menggali potensi yang ada di masingh-masing banjar,” ujarnya.

Baca Juga:  Jelang G20, Sai Rescue Lakukan Persiapan Diri

Di tempat yang sama Ketua Banjar Creative Space banjar Yeh Buah yang juga merupaka kepala lingkungan setempat I Komang Swabawa mengatakan, terkait adanya Banjar Creative Space memang programnya sangat bagus.

“Saya berharap program yang diberikan tersebut lebih mengena ke mayarakat. Memang dijaman digital seperti sekarang ini masyarakat didesa itu mungkin belum bisa mengikuti perkembangan seperti warga yang usia sudah dewasa seperti umur 40 keatas agak lambat menerima hal tersebut desa dengan anak muda,” ucapnya.

Untuk warga yang usia 40 tahunj keatas, lanjut Swabawa, diberkan program yang menyentuh dimasyarakat seperti para ibu-ibu diberikan pelatihan cara membuat kue-kue yang memang laris dipasaran, artinya visa diterima oleh masyarakat pada umumnya.

“Juga berikanlah pelatihan membuka peluang untuk usaha dagang yang bisa dipasarkan untuk semua kalangan, biar tidak didominasi oleh orang luar Bali,” tandasnya. (jus/kb)