Super Keren, Ekspansi JTrip Melesat Menggebrak, Buka Layanan di Lombok dan Jakarta

Pariwisata
Startup SuperApp asal Bali JTrip kembali menghadirkan gebrakan dengan secara resmi membuka layanannya di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan di ibukota DKI Jakarta. (foto/JTrip)

DENPASAR, Kilasbali.com – Momentum kebangkitan kembali pariwisata telah mulai terlihat dengan jadwal kedatangan sejumlah penerbangan internasional.

Dari data Dinas Pariwisata Bali, dalam seminggu tercatat kurang lebih 26 penerbangan dari luar negeri yang rutin bakal datang. Seperti penerbangan dari Jepang, Australia, Singapura, Malaysia, Qatar, dan Turki.

Menyikapi semakin pesatnya kebangkitan pariwisata tersebut, Startup SuperApp asal Bali JTrip kembali menghadirkan gebrakan dengan secara resmi membuka layanannya di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan di ibukota DKI Jakarta

Berbagai gebrakan out of the box inovasi layanan pun dihadirkan untuk semakin memanjakan penggunanya. Salah satunya JTrip membuka rute baru penyeberangan kapal cepat (Fast Boat) Bali-Gili Gede-Lombok.

“JTrip sudah resmi buka layanan di Lombok dan Jakarta. JTrip juga membuka rute baru penyeberangan kapal Bali-Gili Gede Lombok. Tiga kapal sudah kita siapkan,” ungkap CEO JTrip Putu Suciawan saat dihubungi pada Jumat (1/4/2022).

Untuk diketahui JTrip adalah sebuah Super App, platform yang menyediakan berbagai layanan dalam satu aplikasi. Di aplikasi JTrip pengguna bisa melakukan pemesanan ojek online (motor dan mobil) memesan makanan, delivery (pengiriman barang), membeli tiket (dari tiket pesawat, tiket destinasi wisata, hingga tiket event seperti konser dll), mencari dan menyewa properti (penginapan, hotel, villa) dan lain-lain.

Baca Juga:  Pantau Bandara Ngurah Rai, Koster Diajak Selfie oleh Wisatawan Domestik
Startup SuperApp asal Bali JTrip kembali menghadirkan gebrakan dengan secara resmi membuka layanannya di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan di ibukota DKI Jakarta. (foto/JTrip)

Di JTrip pengguna juga bisa menyewa sport car hingga helikopter bahkan pesawat jet karena JTrip telah bekerjasama dengan perusahaan penerbangan. Selain itu bagi pengguna JTrip yang ingin merasakan sensasi menumpangi kapal pesiar, JTrip juga mampu mewujudkannya.

JTrip juga memberdayakan driver lokal Bali dengan menyediakan layanan ojek online (motor dan mobil). Hebatnya lagi JTrip siap membantu para drivernya untuk mempunyai kendaraan motor listrik dengan cara mencicil, tanpa DP (tanpa uang muka) dan dengan bunga sangat kecil, super ringan.

Kembali terkait kehadiran JTrip di Lombok, Putu Suciawan mengungkapkan pihaknya ingin mendukung geliat pariwisata Lombok, NTB. Salah satunya yang kini menjadi magnet daya tarik wisata baru adalah kehadiran Sirkuit Mandalika yang baru-baru ini sukses besar menggelar event MotoGP dan menjadi sejarah baru bagi Indonesia.

Baca Juga:  Aman dan Nyaman Berwisata di Indonesia

Ke depan akan banyak lagi event bertaraf internasional di Sirkuit Mandalika sehingga kehadiran JTrip dengan berbagai layanannya tentu sangat berkotribusi positif membantu pelayanan pariwisata, menggerakan perekonomian masyarakat dan mendukung program pemerintah.

“Kita ingin berpartisipasi di event-event dunia di Lombok dan agar mempermudah orang datang ke Lombok dengan kapal cepat. Apalagi sekarang di Lombok ada Sirkuit Mandalika dengan event MotoGP dan banyak event lainnya. Kami JTrip ingin mendukung pariwisata Lombok, NTB dan pariwisataa Indonesia secara umum,” papar Suciawan.

Baca Juga:  Vakum Dua Tahun, Bali Spirit Festival Kembali Digelar

Soal driver, baik di Lombok maupun Jakarta dan daerah lainnya dimana JTrip telah hadir dan akan hadir, JTrip juga tentu akan menggandeng mitra driver lokal dalam menjalankan layanan ojek online (motor dan mobil) dari JTrip. Selain itu untuk sistem pada driver lokal, JTrip memberlakukan ekonomi subsidi silang.  Hal tersebut diberlakukan karena selama ini banyak keluhan dari driver. Para driver yang ingin bergabung ke JTrip juga tidak akan dimintai Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).

“Paling penting kami tidak gunakan SKCK untuk driver. Kenapa begitu? Seandainya orang sudah pernah masuk penjara dan sudah bebas lalu ingin bekerja, ingin berbuat baik why not. Tapi tetap dengan prosedur dan keamanan,” pungkas Suciawan. (jus/kb)