Solar Ikut Langka, Petani Kena Imbas

Gianyar
Traktor tak bisa dioperasikan karena terkendala solar langka. (foto/ina)

GIANYAR, Kilasbali.com – Tak hanya pertalite yang melangka saat pertamax naik harga. BBM jenis solar juga tidak luput dari keterbatasan hingga berimbas pada sektor pertanian. Ironisnya, petani di Gianyar yang kini sedang memasuki masa olah lahan basah kebingungan lantaran kendala traktor yang tak bisa beroperasi. Sebagian petani terpaksa menggeser siklus masa tanamnya.

Seorang petani di Desa Suwat, Gianyar, I Ketut Pande Jaya, menyebutkan, dalam sepekan ini pihaknya tinggal menunggu giliran traktor. Namun kenyataannya, traktor molor lantaran keterbatasan solar. Sementara itu, pihaknya sudah menyiapkan bibit, dan kini seharusnya sudah mulai ditanam.

“Kami hanya mengandalkan jasa traktor. Dan sebagian besar traktor ukuran besar yang BBM-nya menggunakan solar. Sedangkan traktor yang kecil dengan BBM pertalite atau premium jarang yang punya,” ungkapnya, Senin (4/4).

Baca Juga:  Puluhan Duktang Tak Lapor Diri

Senada itu, Pekaseh Subak Pering Tengah, Blahbatuh, I Ketut Lendra, mengakui kalau sejak beberapa pekan lalu keberadaan solar langka. Dampaknya, petani yang memiliki traktor di atas 8 PK tidak bisa berbuat banyak. “Mereka terpaksa diam, pembelian solar untuk mesin traktor tidak dilayani, harus bawa mobil khusus, kami tidak punya mobil itu, bawa jerigen ditolak,” jelas Ketut Lendra.

Atas kondisi tersebut, beberapa petani menunda pengolahan sawah. Padahal air irigasi saat ini sudah lancar. Disisi lain, ada petani yang berubah haluan dengan mengontrakkan lahannya untuk ditanami komoditi semangka dan mentimun termasuk komoditas lain seperti jagung dan kacang-kacangan.

“Ini kondisinya berbeda, sehingga petani tidak bisa dipaksa menanam padi. Pengolahan sawah terhambat sehingga masa tanam tidak sesuai jadwal,” ujarnya seraya menyebutkan, di Subak Pering dengan empat tempek, ada lahan sekitar 180 hektar, namun sebagiannya sedang masa persiapan tanam.

Baca Juga:  Jenazah tak Bertuan Dimakamkan di Negara

Atas kondisi ini, Ketut Lendra berharap pemerintah juga memperhatikan petani dengan memberikan petani untuk mendapatkan solar dan premium. “Ya agar tidak dihambat mendapatkan premium atau solar, mesin kecil di bawah 8 PK menggunakan premium,” harapnya.

Dikatakannya, kebutuhan solar untuk petani tidak banyak dan hanya satu kali masa tanam. Dikatakannya juga, di wilayah subak lain, melakukan pola tanam lain daripada menunggu minyak lancar. “Infonya di Subak lain juga sama, kesulitan mendapatkan solar, semoga keadaan segera normal,” harapnya. (ina/kb)