Tobat Nyabu, Residivis Malah Jadi Kurir Tempel

Gianyar Kriminal
Tersangka dan barang bukti yang diamankan BNNK Gianyar. (foto/komang)

GIANYAR, Kilasbali.com – Enam tahun menjalani masa hukuman, Ack (45) pria asal Imam Bonjol, Denpasar ini sujatinya sudah beritikad melupakan sabu-sabu. Lantaran nganggur, dia nekat minta pekerjaan ke jejaring barang haram itu. Ujung-ujungnya jadi kurir tempel. Apes baginya, kini ditangkap Petugas BNN Kabupaten Gianyar saat sedang mengambil paket tempelan.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Gianyar, AKBP Agung Alit Adnyana, mengungkapkan, paket tempelan yang disita dari tersangka Ack ini terbilang cukup banyak. Terdiri dari tiga bungkus plastiknya yang total keseluruhan berjumlah 58, 88 gram sabu.

“Rencana sabu-sabu inj akan dikemas lagi dalam paket kecil dengan rata-rata isian 0,2 gram. Berarti bisa mencapai 300 bungkus. Kalau ini beredar ke 300 orang pula, sangat memprihatinkan,” ungkapnya, Rabu (20/4).

Baca Juga:  Antisipasi Virus PMK, Peternak Optimis Harga Babi Stabil

Lanjutnya, penangkapan Ack dilakukan di Gang Anyar X, Jalan Raya Batubulan, Sukawati. Saat itu jajaran yang sedang gencar melaksanakan kegiatan pencegahan mendapati informasi ada orang mencurigakan di gang tersebut.

Oleh petugas di lapangan, tersangka dipantau mengambil bungkusan yang posisinya tergantung. Saat hendak beranjak pergi, petugas datang dan pelaku tancap gas. Namun apes, pelaku berhasil diamankan dan barang bukti belum sempat dibuangnya.

Belum puas dengan penangkapan ini petugas langsung mencoba melakukan pengembangan. Namun sayang, HP yang dijadikan alat komunikasi dengan jejaringnya, langsung terputus. Meski demikian, pihaknya akan terus melakukan pelacakan.

Baca Juga:  Vakum Dua Tahun, Bali Spirit Festival Kembali Digelar

“Dari pengakuan tersangka, dirinya hanya bertugas untuk mengambil paket dan menempel paket pesanan. Dalam satu titik tempelan tersangka mendapat ongkos Rp 50 ribu,” tambahnya.

Dari tes urine, diakui jika tersangka tidak lagi mengkonsumsi barang haram ini. Meski demikian sebagai jaringan pengedar, tentunya lebih disayangkan. Terlebih banyak warga lainnya akan menjadi korban. “Pelaku kami jerat dengan Pasal 112 , Undang-undang No. 35  tahun 2009 dengan Ancaman hukuman  minimal 4 tahun penjara,” pungkas mantan Kabag Ops Polres Gianyar ini.  (ina/kb)