Tekan Kasus Rabies, Awig-awig Adat Sangat Dibutuhkan

Gianyar
Warga saat melakukan vaksinasi anjing. (foto/ina)

GIANYAR, Kilasbali.com – Memutus rantai penyebaran rabies yang hingga kini terus merabak, awig-awig di desa adat tentang hewan peliharaan adalah  salah satu terobosannya. Sebagiman beberpa desa Adat di Gianyar yang sudah memiliki regulasi ini, diharapkan terus ketok tularan. Hal ini diharapkan Kabid Keswan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Gianyar, Made Santiarka.

Ditemui Rabu (27/4), Santiarka menyenutkan, aturan umum yang ada sekarang ini hanya tentang peliharaan anjing adalah menjaga kesehatan, vaksinasi dan pengobatan rutin, memperhatikan pakan anjing dan tidak dilepas liar. “Ini kan aturan umum, nah untuk menekan populasi perlu di tiap desa membuat aturan guna menghindari atau meniadakan adanya kasus gigitan,” jelasnya.

Disebutkan, faktor utama dari kasus rabies adalah ketika anjing peliharaan lepas liar dan bersentuhan dengan anjing liar tanpa tuan. “Yang paling parah itu, warga memelihara anjing sebagai penjaga rumah, dilepas liar dan pakan yang tidak terjamin,” ujarnya.

Baca Juga:  Batas Desa Singapadu dan Celuk Diserahkan ke Pemkab

Dikatakan lagi, salah satu desa adat yang sudah membuat awig-awig tentang peliharaan dan menekan populasi anjing adalah Desa Adat Jero Kuta Pejeng, Desa Pejeng, Tampaksiring. Awig-awig ini sudah disahkan pada 15 Maret 2017 lalu.

Dibeber beberapa point dalam awig-awig tersebut adalah setiap warga yang memelihara anjing, wajib mengandangkan dan tidak dilepas liar. Bila lepas liar di kena denda sebanyak 25 kg beras atau di uangkan. Point kedua dari awig-awig tersebut adalah bila anjing tersebut menggigit warga, maka pemilik anjing wajib memberi pengobatan sampai sembuh dan bila tergigit meninggal, wajib mengupacarai (ngaben) sampai tuntas.

Point lainnya, bila membuang anjing sembarangan didenda 50 kg beras dan bagi warta luar desa adat membuang anjing ke wilayah desa adat didenda 100 kg beras. “Kewajiban lainnya adalah vaksin rabies anjing dan memberi kalung pada anjing peliharaan,” jelasnya. Dari awig-awig tersebut, Desa Pejeng belum pernah terjadi kasus gigitan dan populasi anjing terkendali.

Baca Juga:  Antisipasi Virus PMK, Peternak Optimis Harga Babi Stabil

Sedangkan untuk kasus di Banjar Tubuh dan Banjar Babakan, selain mengeliminasi anjing yang sempat kontak dengan anjing positif, juga dilakukan vaksinasi masal terhat anjing peliharaan warga. “Vaksinasi terus dilakukan sampai keseluruhan peliharaan anjing di Desa Blahbatuh tervaksin dan nantinya ke desa tetangga.

Dikonfirmasi terpisah , Bendesa Desa Adat Jero Kuta Pejeng, Cokorda Gede Putra Pemayun menjelaslan lahirnya awig-awig tersebut didasari adanya kasus gigitan dan banyaknya anjing liar, terutama di sekitar pasar desa.

Setelah awig-awig tersebut disahkan, sejak Tahun 2017 tidak ada lagi kasus gigitan dan warga desa mengikuti aturan tersebut. “Sejak iti tidak ada kasus gigitan, apalagi warga kena denda,” jelasnya singkat. (ina/kb)