DenpasarSeni Budaya

Pesta Kesenian Bali XLIV Tahun 2022

Danu Kerthi: Resilience and Harmony

DENPASAR, Kilasbali.com – Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan mempersembahkan Perayaan Kebudayaan Dunia atau Bali World Culture Celebration (BWCC) sebagai bagian dari program Pesta Kesenian Bali XLIV Tahun 2022. Perayaan Kebudayaan Dunia yang digelar untuk kali pertama ini akan berlangsung sedari 14-25 Juni 2022 secara luring dan daring.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Gede Arya Sugiartha mengungkapkan, perhelatan BWCC ini merupakan apresiasi pada kebudayaan dunia yang bertujuan mewujudkan Bali sebagai Pusat Kebudayaan Dunia (Bali Padma Bhuana). Hal mana ini sekaligus komitmen nyata dalam mengimplementasikan visi Pembangunan Provinsi Bali 2018–2023: Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru. Mengandung makna Kesucian dan Keharmonisan Alam beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan Krama Bali yang sejahtera dan bahagia secara sakala dan niskala, menuju kehidupan krama dan bumi Bali sesuai prinsip Trisakti Bung Karno: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan melalui pembangunan secara terpola, menyeluruh, terencana, terarah, dan terintegrasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945.

Memaknai tema utama Pesta Kesenian Bali XLIV Tahun 2022 “Danu Kerthi Huluning Amreta” (Memuliakan Air Sumber Kehidupan), BWCC kali ini mengetengahkan tajuk Danu Kerthi: Resilience and Harmony (Kebertahanan dan Harmoni). Bertujuan memperkuat posisi strategis kesenian dan kebudayaan Bali yang turut mewarnai dan membangun nilai-nilai kesatuan, harmoni, dan perdamaian (unity, harmony, and peace) antar bangsa di dunia melalui pemanggungan dan presentasi beragam genre pertunjukan. Diharapkan pula dapat mendorong terbangunnya konektivitas dan ruang kolaborasi sesama seniman dan pegiat kreatif lintas negara.

“Kehadiran BWCC sebagai bagian agenda PKB seperti program seni lainnya, diharapkan dapat membuka jejaring (network) bagi pemanggungan dan presentasi kesenian Bali pada masa mendatang di berbagai negara. Dengan demikian, turut mendukung berkembangnya orange economy Bali, yakni pariwisata budaya berkualitas seiring peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik,” ujar Arya Sugiartha.

Pelaksanaan BWCC ini juga sejalan upaya aktualisasi Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali serta ajang Pemajuan Kebudayaan Nasional selaras Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Sebagai kurator adalah Prof. Dr. I Made Bandem, MA, Franki Raden, Ph.D, dan I Nyoman Windha, S.SKar, MA.

Prof. Dr. Made Bandem menyampaikan, terdapat 20 sekaa/komunitas/penampil dari Bali/Indonesia serta mancanegara yang berpartisipasi dalam BWCC ini. Antara lain berasal dari Amerika, Belanda, Belgia, China, Jepang, Perancis, Spanyol dan Taiwan. Diantaranya: Gamelan Terang Bulan (Japan); Gamelan Swara Shanti (Belanda); Gamelan Galak Tika (USA); Shackled Spirits Collage of The Holy Cross (USA); Gamelan Gita Lestari, National Taiwan University (NTU, Taiwan); Gamelan Barasvara (Barcelona); Gamelan Puspa Warna (Prancis); Gamelan Bintang Wahyu–Brigham Young University’s (USA); Gamelan Sekar Jepun (Japan); Gamelan Tunas Mekar (Denver); Jack Quartet (NYC); Gamelan Geinoh Yamashirogumi (Japan); Saling Asah vzw (Belgium); Gamelan Burat Wangi (USA); Jingdezhen Ceramic Institute, Jiangxi Province (RRC); Sanggar Seni Makaradhwaja (Bali-Indonesia); Gamelan Belaluan Sadmerta (Bali-Indonesia); Roras Ensemble (Bali-Indonesia) dan Jes Gamelan Fusion (Bali-Indonesia). Akan tampil di penghujung acara BWCC ini, pertunjukan “Bee Dance” kolaborasi koreografer Andhika Annisa (Indonesia) dan Kareth Schaffer (Jerman), pada 25 Juni 2022 di Gedung Ksirarnawa-Taman Budaya Provinsi Bali.

Baca Juga:  Bali Era Baru, Rayakan Rahina Tumpek Klurut dengan Upacara Jana Kerthi

Selain pergelaran diadakan pula tiga seri Dialog Budaya dengan pembicara terpilih bereputasi internasional, mengetengahkan tema “Water as Source of Innovation and Creation of Performing Arts”; “Contemporary Balinese Gamelan”; dan “Balinese Gamelan on Global Stage”. Beberapa narasumber yang akan berbagi pandangan dan pengalamannya seturut tiga tematik tersebut, diantaranya Prof. Dr. Made Mantle Hood (Taiwan), Prof. Dr. Wayan Rai S (Indonesia), Prof. Dr. Jody Diamond (USA), Prof. Dr. Wayan Dibia (Indonesia); Prof. Dr. Made Bandem (Indonesia) dan Wayan Gde Yudane (New Zealand).

Baca Juga:  Putri Koster Setiap Hari Kunjungi PKB

Karisma Gamelan Bali

Prof. Dr. Made Bandem mengungkapkan, hingga belakangan ini tercatat setidaknya ada 500 perangkat gamelan Bali di Amerika Serikat; serta lebih dari 100 lainnya tersebar di Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, Jepang, Australia, berikut kawasan Asia Tenggara.

“Berdasarkan sejumlah peristiwa penting yang menjadi tonggak dan catatan kehadiran gamelan Bali di panggung dunia, dapatlah dinyatakan bahwa warisan budaya adiluhung kita itu terbukti berkontribusi menegaskan posisi strategis Indonesia dalam dinamika kemajuan peradaban dunia. Gamelan Bali mendapat apresiasi internasional karena perbawa atau karisma artistik dan estetiknya yang berdimensi universal. Ditinjau secara historis, reputasi dan keberadaan gamelan ini terbukti mencerminkan pula kebhinekaan seni budaya yang tumbuh dinamis di seluruh Nusantara, “ tutur Prof. Made Bandem.

Menimbang tonggak-tonggak pencapaian Gamelan Nusantara, berikut sumbangsihnya dalam mewarnai dinamika peradaban dunia, UNESCO menetapkan Gamelan Nusantara sebagai Warisan Budaya Dunia Takbenda pada 15 Desember 2021 di Paris, Prancis.

Seturut reputasinya itu, maka ditetapkan gamelan, khususnya gamelan Bali, sebagai ajang acuan kreativitas pertunjukan pada BWCC kali pertama ini.

Adapun kumandang gamelan memikat perhatian dunia, diawali kisah komponis Prancis bernama Claude Debussy (1862-1918) yang tergugah dan terinspirasi setelah menyaksikan permainan gamelan Sunda bertajuk Sari Oneng di le village javanais ‘Paviliun Hindia Belanda’ saat Paris Exposition Universelle 1889. Beberapa dekade kemudian, sebuah studi komprehensif atas gamelan Bali dan Jawa dilakukan pertama kalinya oleh Jaap Kunst, pionir etnomusikologi yang turut menduniakan tabuh-tabuhan Bali.

Sepanjang abad ke-20, diplomasi budaya yang menghadirkan gamelan Bali di pentas lokal, nasional, dan internasional terus berlanjut dan mendapat apresiasi luas. Di bawah kepemimpinan Tjokorda Gde Raka Sukawati, Gong Belaluan (Denpasar) tampil pada perhelatan Festival Pasar Gambir yang diselenggarakan di Batavia pada tahun 1929. Para maestro yang terlibat antara lain I Marya (penari kebyar), Ni Gusti Made Rai (penari legong), Ni Gusti Putu Adi (penari legong), I Gusti Alit Oka (penabuh), I Made Regog (komponis, penabuh) dan I Gejor Kelambu (penyanyi).

Baca Juga:  Pantau Pelayanan Samsat Denpasar, Koster Tampung Usulan Diskon Pajak 

Layak pula dicatat, Gong Belaluan-Sadmerta melakukan tur ke Cina (1953) dan New York World Fair (1964) di bawah pimpinan komposer I Wayan Beratha, putra dari I Made Regog. Selanjutnya, lawatan sekaa Gong Peliatan, Ubud ke Paris Colonial Exposition pada tahun 1931 yang menampilkan gamelan gong, gamelan angklung, tari legong, dan dramatari Calonarang.

Pada tahun 1952, sekaa Gong Peliatan, Ubud melawat ke Amerika Serikat dan Eropa bersama John Coast. Pada 21 September 1952, sekaa menorehkan sejarah dengan menjadi bintang pada Toast of the Town, sebuah acara TV yang dipandu host legendaris Ed Sullivan.

Sedangkan tahun 1988, kolektif musikal Jepang bernama Geinoh Yamashirogumi menghadirkan sinergi gamelan dengan musik bangsa-bangsa dalam film anime ternama AKIRA, digubah oleh Shōji Yamashiro. Seturut dinamika dan kumandang gamelan secara internasional tersebut, sejumlah program etnomusikologi di berbagai perguruan tinggi luar negeri terbukti turut meningkatkan minat dunia terhadap gamelan. Studi dan kreasi atas gamelan mengalir deras, dan mendorong lahirnya kreativitas musik gamelan melibatkan banyak komponis sohor dunia, antara lain: Ton de Leeuw, Richard Felciano, Philip Glass, Steve Reich, Douglas Young, Jack Body, Dieter Mack, Andrew Toth, Edward Herbst, Shin Nakagawa, Michael Tenzer, Evan Ziporyn, Andrew McGraw dan lain-lain. (m/kb)

Berita Terkait

Back to top button