GianyarNews Update

Sanksi Adat Ditukar Proses Pidana Ganjal Perdamaian Taro Kelod

GIANYAR, Kilasbali.com – Dari sekian kali pertemuan mediasi, upaya perdamaian para pihak dalam sengketa di Desa Adat Taro Kelod, rupanya masih ada mengganjal. Meski masalah Sosial, perdata dan adat sudah menuai titik temu, namun masalah pidana belum terpenuhi. Kendalanya pihak pelapor merasa tidak diberlakukan tidak adil. Terlebih sanksi adat yang diterimanya tanpa ada pelanggaran awig-awig ditukar dengan pencabutan laporan pencabutan penjor.

Dalam mediasi yang diinisiasi Polres Gianyar, Kamis (4/8) pun berjalan sangat alot. Dimana dalan paparan Kasat Binmas Polres Gianyar, AKP I Gede Endrawan memaparkan jika perkembangan upaya damai ini sejatinya sudah mengerucut. Dimana masalah sosial, perdata dan adat yang selama ini membiak sudah disunggupi ke kondisi semua. Sementara kini tinggal menanti penyelesaian dalam aspek pidana dimana beberapa pengurus tersangkut kasus pencabutan penjor dan enam orang sudah berstatus tersangka.

Dalam pertemuan itu, Bendesa Adat Taro Kelod, Wayan Subawa menegaskan jika pihaknya sudah menyatakan kesiapannya untuk mengembalikan ke kondisi semua. Mulai pencabutan sanksi adat, masalah sosial dan lainnya. Kini pihaknya yang sudah mencabut sanksi adat kepada keluarga I Made Warka maka proses hukum atas laporan pencabutan penjor juga diharapkan juga dicabut.

Baca Juga:  Hakordia 2022, Indonesia Pulih Bersatu Lawan Korupsi

Ketika dilempar ke pihak keluarga Ketut Warka, Wayan Gede Kartika menyebutkan jika sanksi adat yang diterimanya bukanlah sebuah pelanggaran atas awig-awig. Karena itu, jika disamakan dengan tindak pidana yang dilakukan oleh sejumlah oknum pengurus adat pihaknya pun harus pikir-pikir. Jawaban ini pula mengakhiri pertemuan dengan tanpa hasil.

Kepada awak media usai pertemuan, Gede Kartika merasa diperlakukan tidak adil jika keluarganya disudutkan. Disisi lain laporan pencabutan penjor itu merupakan tindak pidana yang notabene ada unsur penodaan agama. Karena itu, pihaknya pun tidak ingin disalahkan umat jika laporannya dicabut. Pihaknya tidak ingin dugaan tindak pidana penodaan agama ini hanya dijadikan tumbal dalam masalah yang dihadapinya selama ini.

“Intinya keluarga saya kena sanksi adat tanpa pelanggaran adat kini disandingkan dengan dugaan tindak pidana dimana beberapa orang malah sudah berstatus tersangka. Untuk itu kami juga harus berhati-hati untuk memutuskan ini,” pungkasnya. (ina/kb)

Berita Terkait

Back to top button