BadungEkonomi Bisnis

Kasal Buka Forum NIOHC Bahas Pertahanan Maritim dan Pengembangan Blue Economy

NUSA DUA, Kilasbali.com – Didampingi Komandan Pusat Hidro-oseanografi TNI AL (Pushidrosal) Laksamana Madya TNI Nurhidayat, dan Director International Hydrographic Organization (IHO) Abri Kampfer, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono membuka forum atau pertemuan ke-21 International North Indian Ocean Hydrographic Commission (NIOHC) di Hiton Bali Resort, Nusa Dua, Selasa (23/8/2022).

Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid selama 3 hari (23-25 Agustus 2022) oleh TNI Angkatan Laut (AL) dalam hal ini Pushidrosal, diikuti sejumlah perwakilan dari 16 negara anggota NIOHC. Masing-masing, Amerika Serikat, Australia, Bangladesh, India, Inggris, Maladewa, Malaysia, Mauritius, Oman, Pakistan, Prancis, Rusia, Saudi Arabia, Srilangka, Thailand, serta Indonesia sebagai tuan rumah.

Mengacu pada kebijakan Pemerintah Indonesia untuk mencapai transformasi ekonomi berbasis maritim menuju visi Indonesia 2045, TNI AL terus mendukung Pushidrosal untuk secara aktif terlibat falam forum hidrografi global dan regional. Serta mengelola data hidro-oseanografi secara luas untuk mendukung implementasi perlindungan lingkungan, eksplorasi, dan eksploitasi sumber daya maritim, pengelolaan wilayah pesisir, transportasi laut yang aman dan efisien, serta langkah-langkah pertahanan maritim yang kuat.

Baca Juga:  Discovery Mall Bali Sukses Gelar "Ultra Beach Bali 2022"

“Selain Iiu, terkait pengembangan blue economy, keterlibatan hidro-oseanografi juga mencakup pengembangan industri perkapalan, serta peningkatan bisnis pariwisata dan penyebaran konservasi hutan mangrove yang sangat bermanfaat untuk mengurangi dampak dari tsunami,” ujar Kasal, saat sesi doorstop usai membuka acara tersebut.

NIOHC atau Komisi Hidrografi Samudra Hindia Utara merupakan bagian dari IHO, yaitu Organisasi Hidrografi Internasional yang terbentuk sejak 1921, di mana saat ini Ketua NIOHC adalah Indonesia. “Melalui pertemuan ini, saya berharap dapat membangun saling pengertian tentang pentingnya hidrografi untuk mendukung transformasi blue economy dunia, juga menjawab tantangan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan,” kata Kasal.

Forum ke-21 NIOHC ini merupakan pertemuan tatap muka pertama sejak merebaknya pandemi Covid-19. Delegasi Indonesia dalam pertemuan ini diwakili oleh Komandan Pushidrosal Laksdya TNI Nurhidayat, Asopssurta Danpushidrosal Laksamana Pertama TNI Dyan Primana Sobaruddin, Pabanops Pushidrosal Kolonel Laut (P) Oke Dwiyana P, Aspamkersamtas Danpushidrosal Kolonel Laut (P) Fajar Rusdianto, serta Kadispeta Letkol Laut (P) Agus Sutrianto.

Baca Juga:  Derita Petani Pupuan, Harga Jeruk Anjlok

Informasi yang disampaikan negara peserta diantaranya, penyelenggaraan kemampuan survei hidrografi, kegiatan capacity building maupun kontribusi lembaga hidrografi pada bidang ruang lingkup secara nasional maupun regional seperti, Search and Rescue (SAR) dan tanggap bencana alam. Juga dibahas tentang perkembangan komite dan kelompok kerja (working group) di NIOHC yang meliputi North India Chart Coordination Working Group (NICCWG), NIOHC Capacity Building serta NIOHC Statute Working Group.

Dalam acara tersebut, Pushidrosal melibatkan keikutsertaan industri sebagai bagian dari ekosistem survei dan pemetaan nasional untuk memamerkan teknologi dan inovasi terkini dari industri survei dan pemetaan. Pada pameran kali ini, PT Geotronix Pratama Indonesia (Geotronix) menampilkan salah satu inovasi yang dilakukan bersama Pushidrosal pada akhir Juli lalu yang memanfaatkan teknologi Multibeam Echosounder untuk aplikasi rapid survey.

Selanjutnya, Kasal Berkesempatan meninjau stan pameran, di mana Direktur PT Geotronix Fajar Setio Adi menjelaskan Multibeam Echosounder adalah alat yang digunakan untuk memetakan kontur 3 dimensi kedalaman bawah air. Umumnya alat ini digunakan di kapal survey dan speedboat yang sistem pendukungnya sudah tersedia.

Baca Juga:  Bali Siap Jadi Pusat Inisiatif Industri Kesehatan

Namun kapal survey umumnya berukuran relatif besar, sehingga memiliki keterbatasan untuk dapat mengakses area survey tertentu misalnya, pada saat terjadi bencana alam, kecelakaan transportasi (pesawat terbang jatuh atau kapal karam) di laut atau danau, di mana sulit untuk memobilisasi kapal survey ke area tersebut, serta penugasan sejenis lainnya yang memerlukan respon cepat.

Penggunaan personal watercraft atau jetski menjadi salah satu alternatif untuk melakukan rapid survey atau survey cepat di area pesisir yang lokasinya terlalu berisiko untuk disurvei menggunakan kapal tersebut. “Untuk dapat melakukan
fungsinya dengan optimal dan aman, diperlukan peralatan survei yang portabel, ringkas, dan instalasinya dapat dilakukan dengan mudah dan cepat,” jelas Fajar Setio Adi. (kb/djo)

Berita Terkait

Back to top button