SosialTabanan

Pemandangan Tak Sedap, Sampah Meluber Hingga ke Jalan

TABANAN, Kilasbali.com – Sejak beberapa hari belakangan ini, pemandangan tak sedap terjadi di beberapa titik tempat pembuangan sampah di Kota Tabanan. Sampah tampak meluber hingga ke jalan. Usut punya usut, ternyata hal itu dipicu alat berat di TPA Mandung rusak.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan I Gusti Putu Ekayana membenarkan jika alat berat yang ada di TPA Mandung dalam kondisi rusak. “Rusak sejak hari Kamis lalu, namun sudah diperbaiki dan sejak Minggu (28/8) sudah bisa dioperasikan,” jelasnya.

Ekayana menyebutkan DLH Tabanan memiliki empat unit alat berat, berupa dua excavator dan dua bulldozer. Namun satu excavator dan satu bulldozer dalam kondisi rusak sejak beberapa waktu yang lalu, sehingga hanya dua alat saja yang dioperasikan.

Baca Juga:  Ketua DPRD Tabanan Support Liga Livoli Divisi I

Namun pada tanggal 26 Agustus lalu, ada kerusakan pada excavator yang biasa digunakan, sehingga tidak bisa digunakan. “Kondisi inilah yang membuat sampah di Kota Tabanan tidak terangkut, karena sampah yang ada di truk belum diturunkan,” lanjutnya.

Alatnya sudah diperbaiki pada hari Kamis, tapi setelah dioperasikan selama dua jam, ada satu unit alat berat lainnya yang rusak lagi dan sudah diperbaiki, sehingga alat sudah bisa efektif bekerja sejak Sabtu lalu dan diprediksi pengangkutan sampah sudah kembali normal pada Selasa (30/8).

Ekayana mengaku tidak bisa memaksimalkan kerja alat berat tersebut. Karena takutnya jika alat tersebut dipaksa bekerja lebih dari delapan jam, maka alat berat yang saat ini ada akan rusak lagi.

Baca Juga:  Dorong Pemanfaatan EBT, Pemprov Sosialisasikan Penggunaan PLTS Atap

Menurut Ekayana karena alat berat tersebut sudah tua, yang digunakan sejak tahun 2007. Alat berat ini, kata dia, memang sudah harus diganti, namun karena faktor anggaran yang tidak memadai, maka pembeliannya belum bisa direalisasikan.

“Untuk anggaran sendiri, kami ditarget Rp 800 juta untuk PAD, sedangkan biaya pengeluaran dan pengelolaan sampah, termasuk gaji karyawan lepas ini mencapai Rp 11 miliar, sehingga realisasi pembelian alat belum bisa dilakukan,” bebernya. (m/kb)

Berita Terkait

Back to top button