Karangasem

Luar Biasa! Menteri Pendidikan Brazil dan Afrika Selatan Merasakan Secara Langsung Keunikan Samsara Living Museum

KARANGASEM, Kilasbali.com – Para Menteri Pendidikan beserta anggota delegasi G20 bidang pendidikan dan pejabat tinggi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengunjungi Samsara Living Museum di Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Jumat (2/9/2022).

Dalam kunjungan itu, tamu negara diajak untuk menyaksikan langsung keunikan dan otentisitas Samsara Living Museum yang menjadi bagian jejaring ekosistem Museum Kehidupan Karangasem dimana para delegasi mendapatkan pengalaman yang otentik dari Karangasem yang merupakan “The Spirit of Bali.”

Para delegasi juga diajak melihat implementasi pengembangan pendidikan berbasis budaya dan merasakan langsung pola pengembangan community based touris (pariwisata berbasis komunitas) di daerah yang penuh dengan tantangan dan terletak di pedesaan.

Baru tiba di areal pintu masuk Samsara Living Museum, para delegasi disambut dengan tradisi ngoncang, sebuah tradisi menumbuk padi dengan menggunakan media yang terbuat dari batang kayu berbentuk bulat dan memanjang dimana aktivitas ini dilakukan sedemikian rupa oleh para ibu-ibu dengan piawainya sehingga menghasilkan alunan suara yang berirama dan unik. Atraksi ini menarik perhatian para delegasi sehingga mereka juga tergoda untuk ikut mencoba.

Seperti yang dilakukan Menteri Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Afrika Selatan, Bonginkosi Nzimande serta Menteri Pendidikan Brazil Victor Godoy Veiga, serta delegasi dari Amerika, Jerman, dan lain sebagainya. Bahkan mereka tampak tertawa lepas sambil menyanyi dan menari.

Selanjutnya para delegasi disambut oleh anak-anak sekolah alam Trihita Alam Eco School yang menampilkan tari tradisional janger dan sejumlah nyanyian anak-anak lainya. Anak-anak ini juga tampak luar biasa dengan mengenakan pakaian khas Bali dan kain tenun khas Karangasem. Beranjak siang, para delegasi makin terpukau ketiga disuguhkan tradisi dan ritual atiti bojana atau persembahan makanan untuk tamu terhormat. Dimana makanan tradisional Bali ditata sedemikian rupa di atas dulang kemudian cara membawakanya pun unik.

Tampak sejumlah ibu-ibu yang membawa dulang (tempat sajian) berisi makanan ini melakukan ritual peed (beriringan) diikuti dengan gamelan kulkul bambu/tektekan oleh anak-anak muda hingga akhirnya baru makanan ini disuguhkan kepada para delegasi.

Para delegasi juga mendapatkan pengalaman berkesan dengan memakai pakaian adat Bali dan kain tenun khas Karangasem dimana semua tampak penuh keceriaan. Rasa penasaran mereka juga terjawab setelah mendengar penjelasan tentang keberadaan Samsara Living Museum dan melihat langsung penggambaran siklus hidup manusia Bali mulai dari dalam kandungan hingga meninggal dunia. Bahkan, para delegasi diajak untuk terlibat langsung dalam atraksi budaya genjek yang sebelumnya diberikan pelatihan selama 15 menit.

Selain itu, para delegasi juga diajak belajar cara membuat lawar,dodol, menulis di daun lontar, menganyam, membuat sesajen, bermain musik tradisional hingga mengikuti prosesi water blessing. Para delegasi juga tampak terkesan dengan adanya pasar tradisional di bawah hutan bambu di aral Samsara Living Museum yang dimana mereka bisa mengabadikan momen berinterkasi secara natural di dalam pasar tradisional tersebut.

Diharapkan, dengan berbagai kemasan yang menampilkan Bali yang otentik ini, para delegasi yang berkunjung selama empat setengah jam mendapatkan pengalaman yang otentik tentang budaya Bali dan khususnya Karangasem sebagai The Spirit of Bali.

Menteri Pendidikan Brazil Victor Godoy Veiga mengaku sangat terkesan dengan pengalaman luar biasa yang didapatkan di Samsara Living Museum. Pihaknya menilai bahwa Samsara Living Museum adalah tempat yang sangat menarik, benar-benar otentik, tidak bisa ditemukan di tempat lain.

“Tempat ini sangat bagus menyatukan konteks alam dan manusianya juga dengan spiritualitas serta budayanya. Semuanya sangat terkoneksi dalam sense of humanity. Kami mendapatkan pengalaman yang sangat menyentuh disini. Kami memakai pakaian Bali, melakukan hal-hal seperti masyarakat tradisional Bali, berinteraksi dengan anak-anak. Jadi ini semua pengalaman yang luar biasa. Kami harapkan tempat ini semakin sukses,” papar Menteri Victor Godoy Veiga ujarnya seraya menyampaikan terima kasih.

Terkait pengalaman dalam Education Working Group Meeting & Education Minister’s Meeting, Menteri Victor Godoy Veiga menggungkapkan pihaknya telah melewati minggu yang produkti untuk mendiskusikan pendidikan di Bali sebab pendidikan sangat penting bagi masyarakat dunia. Dan Indonesia tentu mengambil peran besar meningkatkan kualitas pendidikan dengan konsep gotong royong atau kebersamaan.

Ia menegaskan semua pihak harus bekerjasama, bergotong rotong untuk memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang untuk mengakses pendidikan dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Irsyad Zamjani menuturkan bahwa semangat gotong-royong menjadi nilai utama yang diangkat dalam pertemuan G20 Education Working Group & Ministers’ Meeting. Semangat itu menjadi pegangan utama untuk solidaritas, dengan semangat persatuan, dan tidak ada yang tidak mungkin jika sudah berkolaborasi untuk melewati berbagai tantangan.

Terkait kunjungan ke Samsara Living Museum, Irsyad menilai menjadi contoh pelestarian lingkungan, alam, budaya, dan juga sarana pendidikan, untuk kemajuan ekonomi dan pengembangan kreativitas. “Saya mendapatkan pelajaran penting dari kunjungan kami di living Museum ini,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan, pihaknya akan menyuarakan ke pusat tentang semangat dari inisiatif museum kehidupan ini, bahkan menjadi contoh bagi museum lain. “Saya kira semangat dekat dengan alam yang diusung museum ini bisa menjadi contoh untuk menghadapi isu-isu lingkungan,” pungkasnya.

Sementara itu, Inisiator dan Founder Samsara Living Museum Ida Bagus Agung Gunarthawa mengungkapkan kegembiraannya karena Samsara Living Museum terpilih menjadi tempat culture experience bagi para delegasi G20 bidang pendidikan. Karena Samsara Living Museum dikunjungi delegasi G20. Museum kehidupan ini dipilih untuk menjadi tempat culture experience untuk education working group tingkat menteri G20 di bidang pendidikan.

“Mungkin bisa sebagai referensi untuk pola-pola pengembangan pendidikan berbasis budaya di daerah yang penuh tantangan juga di berbagai negara. Jadi itu poin utamanya. Mungkin karena semua pihak yang terlibat dalam program ini mempunyai visi yang sama, sehingga dipertemukan dalam satu konsep kolaborasi ini,” tutur tokoh Bali yang akrab disapa Gus Agung ini.

Menurutnya, kunjungan para delegasi ini tidak terlepas dari upaya yang dilakukan Samsara Living Museum ini dalam menerapkan konsep pengembangan potensi berbasis budaya, sehingga usaha yang dilakukan juga meraih capaian yang semakin memotivasi kami.

“Dua tahun lalu dinobatkan sebagai penerima Anugrah Kebudayaan Indonesia,” beber pria yang juga merupakan National President JCI (Junior Chamber International) Indonesia tahun 2015 dan Direktur Pemasaran ICCN (Indonesia Creative Cities Network) ini.

Dia menambahkan, melalui kunjungan ini yang sesuai dengan idealisme dalam pola-pola pengembangan pendidikan dan budaya berbasis keluarga, memberikan ruang dan peran kepada masyarakat atau keluarga itu sendiri.

“Inilah potensinya. Jadi harapannya dengan kehadiran delegasi G20 ini juga akan memperkuat motivasi kita, kemudian jejaring, dan juga bagaimana potensi kolaborasi ke depan bisa semakin diperkuat dan diperluas,” harapnya.

Samsara Living Museum hadir berawal dari keprihatinan modernisasi yang jika tidak diantisipasi dengan arif dan bijaksana maka akan dapat menggerus adat dan budaya sebagai identitas dan kekuatan masyarakat Bali. Apalagi kini pemahaman kita semakin dangkal, terutama oleh generasi muda.

Museum Kehidupan Samsara adalah salah satu dari pengejawantahan Museum Kehidupan Karangasem yang mengangkat tema tentang siklus hidup manusia Bali, merekonstruksi rangkaian siklus kelahiran manusia Bali. Di mana semua dibingkai dalam ritual, sarana upakara. Dan pemaknaan di balik simbol-simbol tersebut menjadi informasi praktis yang dapat memperkaya pengalaman. (jys/kb)

Berita Terkait

Back to top button