GianyarNews Update

Periksa Kolok, Polisi Kesulitan Berkomunikasi

GIANYAR, Kilasbali.com – Setelah diamankan, baru rasa keamanan masyarakat yang sedikit terjawab lantaran posisi pembunuh sadis I Wayan Agus Arnawa alias Kolok tidak lagi berkeliaran. Namun kini giliran penyidik Polsek Payangan yang uring-uringan. Karena proses pemeriksaan terhadap pelaku terganjal komunikasi.

Kapolsek Payangan, AKP I Putu Agus Ady Wijaya, Selasa (20/9), mengungkapkan, kesulitan yang dihadapi penyidiknya tak lepas dari status Kolok yang tuna wicara. Selain itu, pelaku sendiri selama ini tidak pernah mengenyam pendidikan di SLB, sekolah khusus tersebut. “Terus terang saja kelimpungan memeriksanya. Diajak komunikasi sulit, dan kami pun tidak mengerti apa pun isyarat dia,” ucapnya.

Bahkan usaha pihak kepolisian mendatangkan seorang guru dari SLB yang selama ini membantu kepolisian dalam mengungkap kasus kejahatan yang melibatkan pelaku yang mengalami kekurangan itu pun turut kelimpungan. Lantaran Arnawa ini memang tidak mengenyam pendidikan di SLB.

Baca Juga:  Bawaslu Intensifkan Partisipasi Difabel dalam Berdemokrasi

“Guru SLB sebagai penerjemah juga sulit. Sementara kami di kepolisian butuh penerjemah yang terkualifikasi selama proses pemeriksaan ini,” paparnya.

Karena itu, seperti kata Kapolsek, sebagai solusi selain mengandalkan penerjemah yang juga guru SLB tersebut. Pihak kepolisian juga mengandalkan orang tua pelaku yakni Wayan Putra Yasa,( 45) untuk turut mendampingi. Sebab selama ini, hanya sang ayah yang mengerti setiap isyarat yang disampaikan pelaku.

“Sebenarnya ayahnya saja bisa menerjemahkan. Cuma sesuai prosedur pemeriksaan, tetap harus ada penerjemah terkualifikasi. Karena itu, kami akan sertakan juga ayahnya untuk turut menjelaskan setiap isyarat yang disampaikan pelaku, saat ditanyai penyidik,” bebernya.

Baca Juga:  Panwaslucam di Gianyar Kurang Diminati Perempuan

Sementara itu, disinggung mengenai kondisi kejiwaan pelaku ketika diperiksa. Secara umum kondisi Arnawa memang cukup stabil. Namun pemeriksaan secara kejiwaan tetap dilaksanakan untuk kepastian proses hukumnya.

“Jadi sekarang kami tinggal menunggu hasil pemeriksaannya. Kalau memang pelaku mengalami gangguan kejiwaan, tentu proses hukumnya akan dihentikan sementara, sampai proses pengobatannya selesai,” pungkasnya. (ina/kb)

Berita Terkait

Back to top button