Ekonomi BisnisGianyarSosial

Dijatah BBM 15 Liter, Nelayan Wajib Kantongi Surat Distan

GIANYAR, Kilasbali.com – BBM jenis bersubsidi seakan melangka lantaran jadi primadona. Kondisi ini juga membuat para nelayan kelimpungan karena tidak memungkinkan ikut antrian di SPBU. Demikian juga untuk mengoperasikan traktor sawah, petani juga kena imbasnya.

I Made Weta salah seorang Nelayan di Pantai Gianyar mengungkapkan, pihaknya sedikit kesulitan untuk mendapatkan BBM bersubsidi. Terlebih setelah kenaikan BBM, banyak kendaraan yang beralih ke BBM bersubsidi.

Akibatnya, BBM subsidi cepat habis, sehingga terkesan langka. Sementara pihak pertamina tidak serta merta memberikan jatah kepada nelayan yang tidak ikut dalam antrean kendaraan.

“Kini kami harus mengantongi surat rekomendasi dari Dinas Pertanian (Distan). Itu pun dijatah hanya 15 liter,” ungkapnya, Minggu (25/9).

Pekaseh Subak Pering Tengah, I Ketut Sulendra mengakui jika pihaknya ikut kelimpungan pasca kenaikan harga BBM ini.

Karena BBM yang langka ini mengakibatkan petani kesulitan mengoperasikan traktor, sehingga ada beberapa petani memilih menanam palawija dan semangka karena kesulitan mendapat traktor.

Baca Juga:  Cegah Bullying, Polisi Sambangi Sekolah

Secara terpisah, Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar, Ida Bagus Purnama,  menjelaskan sejak BBM langka dan pasca kenaikan harga BBM, baik petani tukang traktor dan nelayan wajib meminta rekomendasi ke perbekel atau lurah setempat.

“Biasanya diajukan oleh ketua kelompok nelayan dan pekaseh subak ke perbekel untuk mendapatkan rekomendasi,” jelas IB Purnama.

Usulan selanjutnya dari perbekel mengajukan ke Dinas Pertanian dan selanjutnya diberi rekomendasi mendapatkan BBM subsidi baik solar dan premium.

Baca Juga:  Pemprov Bali Musnahkan Arsip Habis Masa Retensi

Ditambahkan, untuk tukang traktor asal luar Bali, juga wajib mengajukan permohonan ke perbekel dan dilanjutkan ke Dinas Pertanian. “Rekomendasi berlaku hanya 30 hari dan memperpanjang lagi setelahnya,” tambahnya. Sedangkan untuk tukang traktor sawah hanya dijatah 15 liter BBM per hari.

“Bawa rekomendasi di Pompa Bensin, maksimal boleh ambil 15 liter, untuk sehari,” tambahnya.

Sampai saat ini, persoalan BBM baik di nelayan dan tukang traktor sudah tidak ada persoalan. Dimana pekaseh subak dan perbekel sudah sigap memperjuangkan BBM bagi kebutuhan petani.

Baca Juga:  BKOW Bali Studi Tiru ke DIY

Dari data yang ada, di Gianyar terdapat 954 nelayan yang aktif tersebar dari Desa Lebih (bagian timur) sampai Desa Ketewel (paling barat).

Nelayan-nelayan ini sebagian besar menggunakan BBM jenis pertalite. Sedangkan jumlah traktor di Gianyar terdapat 126 traktor bantuan dari pemerintah pusat, dari 500 subak di Gianyar diperkirakan terdapat 1.200 mesin traktor baik roda dua dan roda empat.

“Ada juga kepemilikan individu, kelompok atau memang khusus sebagai tukang traktor,” pungkas IB Purnama. (ina/kb)

Berita Terkait

Back to top button