SosialTabanan

Ini Pengakuan Pasutri Ikuti Screning Pra-nikah

TABANAN, Kilasbali.com – Pasangan suami istri (pasutri) asal Desa Tegalmengkeb, I Wayan Anom Adi Putra (26th) dengan Putu Renaayuna Dewi (26th) yang baru beberapa hari lalu melangsungkan upacara pernikahan mengajak seluruh masyarakat, khususnya calon pengantin (catin) untuk tidak takut menjalani screning pra-nikah.

Pasalnya, Renaayuna membuktikan sendiri manfaat yang didapatkan setelah mengikuti screning sekaligus mengikuti Program Semara Ratih di Desa Tegalmengkeb.

“Dalam screening tiga bulan sebelum nikah itu yang dicek ringan-ringan aja kok, seperti tensi, hemoglobin, lingkar lengan atas, lingkar perut, tinggi dan berat badan. Jadi apa yang ditakutkan?” kata Renaayuna, dikonfirmasi di kediamannya, Rabu (19/10).

Staf di Kantor Desa Tegalmengkeb ini pun berbagi pengalaman sebelum mengarungi bahtera rumah tangga dengan pria pujaan hatinya.
Tiga bulan sebelum rencana pernikahan, dia ditemani calon suami melapor ke Kantor Kepala Desa.

Laporan itu kemudian ditindaklanjuti oleh kepala desa dengan mengadakan konseling pra nikah dari Tim Semara Ratih.

Menurut Renaayuna, tim yang pertama kali melayaninya adalah Tim Pendamping Keluarga (TPK). Tim itu terdiri dari unsur tenaga kesehatan (bidan desa), Kader PKK dan Kader KB.

Baca Juga:  Memberantas Korupsi Harus Mulai dari Diri Sendiri

“Setelah melapor ke kantor desa, saya langsung di-screening. Ini langkah yang sangat penting bagi saya sebagai catin untuk memastikan kesiapan saya sebagai ibu rumah tangga sekaligus calon ibu,” kata dia.

Selanjutnya, masih menurut Renaayuna, giliran pihak kepolisian (Babinkamtibnas) yang memberikan konseling terkait tips-tips menghindari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pasangan ini diberikan pemahaman detail konsekuensi pidana jika sampai melakukan KDRT.

Intinya, jika ada persoalan-persoalan rumah tangga diusahakan selesai dengan kepala dingin.

Baca Juga:  Tepati Janji, Bupati Sanjaya Singgasanakan Patung Wisnu Murti di Catus Pata Kediri

Berikutnya giliran bendesa adat yang memberikan wejangan terkait tata-titi dan sesana (hak dan kewajiban) seseorang yang telah memasuki dunia pernikahan. “Kami dijelasin tentang perarem, awig-awig dan kewajiban dalam adat di desa kami agar kami paham,” kenangnya.

Tak berhenti sampai di sana, mereka juga didampingi oleh TPK dalam menginput data hasil screning ke aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (ELSIMIL).

Baca Juga:  Bagan Utama Patung Wisnu Murti Dipasang

“Kami benar-benar merasa terlayani dengan baik. Terus dapat bonus akta perkawinan, dipermudah mengurus KTP, KK dan urusan administrasi lain. Dan yang terpenting, semua layanan kami dapatkan secara gratis. Sehingga kami bisa fokus ke persiapan upacara pernikahan,” katanya.

Pasangan yang masing-masing berusia 26 tahun ini, melanjutkan, program Semara Ratih lebih mematangkan mental catin, demikian juga dari segi fisik karena telah dipersiapkan sejak awal.

Renaayuna pun berharap, Program Semara Ratih bisa dikembangkan ke seluruh Bali, guna melahirkan keluarga-keluarga berkualitas, terutama untuk mencegah calon bayi yang lahir stunting. (eka/kb)

Berita Terkait

Back to top button