GianyarNews Update

Terowongan Tersumbat, Kerusakan Irigasi Suwat Kian Parah

GIANYAR, Kilasbali.com – Akibat saluran irigasi tersumbat plat beton, mengakibatkan kerusakan semakin parah bahkan menjadi  bencana. Luapan air selama guyuran hujan mengakibatkan tembok pelinggih roboh dan menimpa pelinggih. Tak hanya itu, tumpukan kayu yang hanyut pun menyumbat terowongan irigasi. Akibatnya, ratusan petani di dua desa kini paceklik air.

Dari pantauan di lokasi, Selasa (25/10), kondisi di areal tembuku Kaja Kauh, Desa Suwat yang juga kawasan suci terlihat sangat memprihatinkan. Meskipun kayu yang bergelimpangan sebelumnya sudah dibersihkan, saat hujan lebat yang mengguyur Selasa sore, kiriman kayu dan sampah menumpuk lagi.

Karena tersumbat plat beton, dasar sungai pun menjadi dangkal sehingga air meluber ke lahan sekitarnya. Bahkan tembok penyangga pelinggih setempat roboh dihantam arus. Ironisnya lagi tembok yang dimaksudnya melindungi malah menimpa pelinggih yang dikeramatkan warga setempat.

Tak hanya itu, saluran air yang mengarah ke terowongan juga kena imbasnya. Mulut terowongan tidak luput dari sumbatan kayu dan sampah yang kemudian dipertebal dengan endapan pasir lumpur. Akibatnya, saluran air irigasi satu-satunya menuju ke areal persawahan Suwat Kelod, Desa Suwat dan Purnadesa, Desa Siangan, kini mengalami kekeringan.

“Sumbatannya terlalu besar. Kami kesulitan mengatasinya. Lagian musim hujan masih menyambung dan pasti akan tersumbat lagi masih terjadi pendangkalan sungai irigasi yang disebabkan plat beton ini,” ungkap Pak Pande Jaya salah seorang petani setempat.

I Putu Nonok Darmendra, Warga Suwat juga menyayangkan keberadaan plat beton yang kini menimbulkan musibah. Pihaknya bersama beberapa rekannya mengaku sudah berkoordinasi dengan dinas terkait namun jawabannya yang diterimanya terkesan saling pingpong. Dan ujung-ujungnya instansi di Kabupaten Gianyar berdalih itu bukan kewenangannya.

Baca Juga:  Eksekutif dan Legislatif Tabanan Sepakati Dua Ranperda Ini

“Walaupun PUPR Gianyar mengaku sudah berkoordinasi dengan Balai Air Bali Penida, nyatanya kondisinya kini semakin parah. Jauh hari sebelum bencana ini terjadi, kami sudah laporkan,” tuturnya.

Dalih kewenangan, sebutnya sangat dipertanyakan warga Suwat. Karena yang dikeluhkan warga adalah keberadaan plat beton berjeruji yang dinilai menjadi penyebab utama bencana saban musim hujan ini.

Plat beton itu bukanlah bangunan yang digarap oleh Balai Air Bali Penida. Itu hanya akal-akal instansi pemerintah di Gianyar untuk mensiasati pembagian air di saat musim kering. Namun, dampaknya di saat musim hujan tidak diperhitungkan.

Baca Juga:  Apresiasi Kinerja Anggota KORPRI

“Nyatanya plat beton itu kini tidak berfungsi dan malah sebaliknya mengakibatkan bencana. Menunggu koordinasi lintas instansi ini, keburu bencana yang lebih parah datang,” terangnya kesel.

Tambahnya, saat banjir luapan yang terjadi Selasa sore, belasan petani pun tidak bisa pulang. Karena di areal tembuku itu pula menjadi jalan petani menuju ke sawahnya. “Sampai petang para petani baru bisa pulang. Mereka tidak berani menyeberang takut terseret.  Melalui jalan memutar, banyak petani yang dijemput keluarganya melalui jalur  Banjar Mulung , Desa Sumita. Syukurnya, warga kami sangat waspada sehingga tidak ada korban selamat air luapan ini terus terjadi setiap ada hujan,” keselnya lagi.

Baca Juga:  Dalami Ranperda Inisiatif P4GN Undang Pakar Hukum Adat

Sebelumnya, menghindari kerusakan lahan yang lebih parah serta menghindari robohnya pelinggih yang ada, warga sudah sempat berkoordinasi dengan Pihak Dinas Pertanian serta PUPR. Bahkan petugas dari Dinas Pertanian sudah pernah dicek ke lokasi dan disebutkan jika irigasi setempat adalah saluran utama yang koordinasi ke Dinas PUPR.

Namun setelah dikoordinasikan ke PUPR Gianyar menyebutkan sudah ditindaklanjuti. Dari keterangan PUPR disebutkan sudah koordinasi ke Balai Sungai Bali Penida yang mewilayahi saluran tersebut. (ina/kb)

 

Berita Terkait

Back to top button