DenpasarSosial

TFR Terendah di Indonesia, Unmet Need Bali Masih Tinggi

DENPASAR, Kilasbali.com – Provinsi Bali memiliki angka total rata-rata kesuburan atau total fertility rate (TFR) 1,9 dan merupakan terendah di Indonesia. Angka TFR 1,9 berarti satu orang perempuan yang tinggal di Bali hanya melahirkan satu atau dua anak selama masa reproduksinya. Kendati demikian tingkat persentase unmet need atau kebutuhan ber-KB yang tidak terlayani masih tinggi.

“Kita perlu bersyukur karena capaian TFR kita sudah rendah dibanding provinsi lain. Namun capaian unmet need kita masih cukup tinggi, sehingga pelayanan kontrasepsi tetap harus ditingkatkan untuk menjaga agar angka TFR tidak naik ” kata Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali, dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, Selasa (25/10/2022).

Nah, hal itu tergambar saat Perwakilan BKKBN Provinsi Bali bersama Balai Pelatihan Kesehatan Masyarakat (Bapelkesmas) Bali menggelar pelatihan pelayanan kontrasepsi bagi dokter dan bidan Angkatan II yang dilaksanakan secara blended learning atau teori dan praktek lapangan.

Baca Juga:  Cegah Bullying, Polisi Sambangi Sekolah

Dr. Luh De menjelaskan bahwa kegiatan ini sebagai upaya memaksimalkan kualitas layanan KB melalui peningkatan kapasitas tenaga Kesehatan. “Ini merupakan satu bentuk apresiasi BKKBN terhadap para tenaga kesehatan,” ujar dr. Luh De.

Unmet Need merupakan persentase perempuan kawin yang tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan kelahiran namun tidak terlayani dalam penggunaan kontrasepsi.

Dr. Luh De mengatakan berdasarkan data Pendataan Keluarga tahun 2021 (PK-21), persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi atau Unmet Need baru terealisasi 17,90 persen dari target 7,94 persen.

Baca Juga:  Kemajuan Bangsa Jadi Tanggung Jawab Generasi Penerus

Kondisi ini menurut dr. Luh De perlu menjadi perhatian bersama dalam rangka meningkatkan kesertaan ber KB oleh pasangan usia subur (PUS) terutama KB metode kontrasepsi jangka Panjang (MKJP).

Dr. Luh De mengatakan target peserta KB baru khususnya IUD dan implant di Provinsi Bali berdasarkan data SIGA tahun 2022 masih sangat rendah, yaitu dari target sebanyak 11.507 (IUD) baru terealisasi sebesar 1.605 atau sebesar 13,95 %.

“Demikian pula halnya dengan target KB baru implan sebesar 1.732 baru terealisasi sebesar 564 atau sebesar 32,56 %,” ujarnya.

Melihat dari hasil praktek lapangan, dari target 45 akseptor telah terpenuhi. Namun dalam pelayanannya belum ada pemasangan KB Pasca Salin di fasilitas kesehatan yang menjadi tempat praktek peserta.

Baca Juga:  Ketua PKP Gianyar ‘Dibidik’ Partai Lain

“Jika dilihat dari kacamata program, tentunya sangat baik, hal ini mengindikasikan rendahnya angka melahirkan di Bali, yang sejalan dengan rendahnya TFR. Namun sangat disayangkan para peserta tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktek langsung KB Pasca Salin” tambah dr Luh De.

Diharapkan peserta pelatihan pelayanan KB Angkatan II dapat mengikuti kegiatan dengan maksimal dan dalam praktiknya dapat mengaplikasikan ilmunya secara langsung pada sasaran sesuai dengan yang ditargetkan.

Kegiatan ini diikuti peserta yang terdiri dari Dokter maupun Bidan yang memberikan pelayanan KB di fasilitas pelayanan kesehatan baik yang berasal dari unsur Rumah Sakit/Klinik, Puskesmas, maupun Praktek Mandiri (PMB/PMD). (eka/kb)

Berita Terkait

Back to top button