DenpasarNews UpdateSosial

Polemik Baliho Babi Guling, Satpol PP Tegaskan Tak Ada Diskriminasi

Sukseskan G20, PWI Bali Ajak Awak Media Berkontribusi Positif

DENPASAR, Kilasbali.com – Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Bali Dewa Nyoman Rai Dharmadi kembali angkat bicara menyikapi polemik baliho babi guling yang viral di media sosial karena ditertibkan aparat Satpol PP gabungan.

 

Kepada awak media, Dewa Dharmadi mengungkapkan, penertiban yang dilakukan tidak ada diskriminasi. Spanduk, pamflet hingga baliho atau material promosi lainnya di jalur KTT G20, diturunkan dan diamankan.

 

“Sebagai tuan rumah kita menyiapkan diri dengan mengadakan bersih-bersih lingkungan. Dalam hal ini material promosi dan lapak-lapak di atas trotoar kita himbau untuk pindah, baliho, pamflet dan spanduk, kita turunkan,” jelas Dewa Dharmadi, Selasa (1/10).

Baca Juga:  Kemajuan Bangsa Jadi Tanggung Jawab Generasi Penerus

 

Disinggung soal penurunan baliho babi guling yang dinilai tidak menghormati kearifan lokal Bali, Dewa Dharmadi menegaskan bahwa penertiban dilakukan tanpa diskriminasi. “Kita profesional saja, kalau ada kesan seperti itu perlu dipertanyakan idealismenya tentang Bali,” tegas Dewa Dharmadi.

 

Dia menambahkan, di sepanjang jalur yang dilewati delegasi KTT G20 akan dipasang 2.500 penjor dari ukuran sedang hingga besar. Kata dia, penjor menjadi simbol tradisi budaya Bali untuk menyambut tamu.

 

“Yang akan dipasang adalah penjor, setinggi 6-7 meter, itu bagian dari budaya kita untuk penyambutan tamu atau momen penting, jadi untuk sementara material promosi kita turunkan dulu,” pungkas dia.

Baca Juga:  Pemprov Bali Musnahkan Arsip Habis Masa Retensi

 

Sementara itu, Ketua PWI Bali IGMB Dwikora Putra mengajak awak media untuk dapat memberikan kontribusi yang positif dalam pemberitaan-pemberitaan terkait Bali Bangkit, dan kesuksesan G20 ke depannya.

 

Menurutnya, untuk mengamankan Bali dalam situasi saat ini dengan meminimalisir pemberitaan yang bersifat kontra produktif terkait G20. “Saya yakin teman-teman wartawan memiliki visi yang sama dalam pemberitaan,” ujarnya.

 

Dari pengamatannya, media mainstream khususnya media cetak harian di Bali telah dan sangat mendukung Bali bangkit dan G20 ini agar dapat berjalan lancar sukses.

 

Kendati demikian, Dwikora tak menampik yang susah dikontrol adalah media cyber (online), yang jumlahnya banyak sekali. “Namun, pers secara umum saya yakin mendukung kesuksesan G20 dan Bali segera bangkit kembali,” harapnya.

Baca Juga:  Memberantas Korupsi Harus Mulai dari Diri Sendiri

 

Dwikora menambahkan, pemberitaan memiliki peranan penting untuk suksesnya KTT G20 dan pemulihan ekonomi Bali. Maka dari itu, pentingnya sinergi pemerintah dengan awak media semakin ditingkatkan. Khususnya dalam mencegah informasi bohong yang merugikan masyarakat.

 

“Edukasi pers dan jurnalistik menjadi tantangan tersendiri seiring menjamurnya media siber (online) dan perkembangan media sosial. Apalagi saat ini, kebanyakan masyarakat belum semua bisa membedakan mana media pers dengan media sosial,” pungkasnya. (jus/kb)

Berita Terkait

Back to top button