DenpasarNews UpdatePendidikanSeni BudayaTokoh

Proteksi dan Lindungi Penekun Sastra Jawa Kuno

DENPASAR, Kilasbali.com – Koordinator Staf Khusus Presiden RI AAGN Ari Dwipayana menyampaikan harus ada aksi afirmasi dalam rangka memberikan perlindungan dan proteksi terhadap program studi dan para penekun sastra Jawa Kuno.

Dengan perlindungan dari pemerintah pusat hingga daerah, dan juga didukung oleh aksi pengembangan dan pembudayaan sastra Jawa Kuno, diharapkan Sastra Jawa Kuno, dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman, digemari kawula muda, sehingga tidak akan mengalami kepunahan.

Hal itu disampaikan Ari dalam Seminar Nasional Sastra Jawa Kuna bertajuk “Pemajuan dan Penguatan Sastra Jawa Kuno di Tengah Persaingan Global” yang diselenggarakan oleh Universitas Udayana di Bali, Jumat (11/11/2022).

Turut hadir dalam seminar tersebut, Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI I Nengah Duija dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Gede Arya Sugiartha.

“Saya melihat penekun sastra dan bahasa Bali tidak lagi orang-orang tua, tetapi anak-anak muda. Pertanyaan yang muncul adalah apakah anak-anak muda ini bisa bertahan untuk hidup di tengah tuntutan kehidupan? Ada yang menyerah, terpaksan masuk ke profesi lain terutama pariwisata, masuk menjadi crew kapal pesiar dengan melupakan sesaat sastra Jawa Kuno.

Ada juga yang bertahan meskipun mereka tidak terkait langsung dengan ilmu, tetapi mereka tetap menjadi penekun sastra. Yang ideal memang mereka menjalankan profesi yang mereka dapatkan. Maka memang tidak bisa tidak ada perlindungan, proteksi. Harus ada aksi afirmasi pada program studi dan juga penekun Jawa Kuno,” tutur Ari.

Baca Juga:  Jurnal Membangun Bali

Ari yang juga merupakan Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud pun menyampaikan, terdapat tiga strategi utama bagaimana Sastra Jawa Kuno agar tetap dapat lestari. Pertama, Proteksi atau Perlindungan dari Negara, baik pemerintah pusat sampai daerah: menjadikan sastra Jawa Kuno sebagai warisan budaya bangsa yang harus dijaga kelestariannya. Hal itu bisa dalam bentuk kebijaka-kebijakan afirmasi seperti alokasi anggaran (riset dan pendidikan) yang tidak bisa disamakan dengan program studi lain.

Selain itu, rekruitmen dan juga pengembangan dosen; beasiswa mahasiswa dan juga afirmasi pada rektuitmen lulusan perlu menjadi perhatian.

Strategi Kedua menurut Ari, yaitu melakukan pengembangan dan pemajuan pusat riset sastra jawa Kuno sebagai “gateway” untuk mengeksplorasi sistem ilmu pengetahuan lokal-nusantra; usadha, nilai-nilai luhur agama, wariga, tutur, kanda, itihasa, babad, tantri. Diharapkan pusat riset ini nantinya mempunyai jejaring internasional, universitas dan filantropis yang memang sedang tercengang dengan warisan khasanah sastra dari Nusantara yang masih tersimpan.

Tentu saja dengan sikap yang jelas dalam kesetaraan agar bangsa Indonesia tidak menjadi tukang saja. Posisi kita bangsa Indonesia dalam hal ini tidak sebatas penerjemah tetapi mengembangkan ilmu pengetahuan yang teream di lontar-lontar berbahasa jawa kuno. Dan yang ketiga ialah Pembudayaan yang bukan lagi di tataran elite (seperti nama Gedung) tetapi di kalangan anak-anak muda, milenial nyastra misalnya. Sehingga mereka mencintai sastra Jawa Kuno dengan menggunakan dengan cara kekinian.

Baca Juga:  Sanjaya Apresiasi Kerjasama Pimpinan dan Dewan Mewujudkan Pembangunan Tabanan

Ketiga Strategi tersebut dinilai Ari menjadi penting, di tengah fenomena mulai punahnya ribuan bahasa di dunia. “UNESCO pada tahun 2011 memetakan sekitar 6 ribu bahasa di dunia, dan sekitar 40% berada dalam posisi terancam yang didalamnya 4 persen sudah punah,” ujar Ari.

Menurut data dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kemendikbud, Ari menuturkan dari pemetaan sebanyak 718 bahasa daerah di Indonesia, beberapa di antaranya sudah ada yang punah dan kritis. Sebanyak 11 bahasa sudah dinyatakan punah, yaitu: Tandia (Papua), Mawes (Papua Barat), Ternateno (Maluku Utara), Moksela (Maluku Utara), Kajeli (Maluku) , Piru (Maluku), Palumata (Maluku), Hukumina (Maluku), Hoti (Maluku), Serua (Maluku), Nila (Maluku).

Sementara itu, 4 bahasa daerah dalam kondisi kritis, yaitu: Reata (Alor, NTT), Saponi (Waropen, Papua), Ibo (Halmahera Barat), Meher (Pulau Kisar, Maluku). Aadapun, beberapa bahasa daerah terancam punah, yaitu 9 bahasa daerah di Papua (Mander, Namla, Usku, Maklew, Bku, Mansin Borai, Dubu, Irarutu, Podena), 4 bahasa daerah di Sulawesi (Ponosakan, Konjo, Sangihe Talaud, MIhanasa), 2 bahasa daerah di Sumatera (Bajau Tungkal, Lemalang) bahasa daerah di Maluku (Hulung, samasuru), dan 1 bahasa di NTT (Nedabang)

Baca Juga:  Kabar Baik, Restrukturisasi Kredit di Bali Diperpanjang

“Kita harus bersyukur karena bahasa dan sastra Jawa Kuno tidak punah, setidaknya selama 1.244 tahun. Pelajaran yang bisa diambil adalah bahasa dan sastra tidak punah karena digunakan, dipakai, digunakan dalam ilmu pengetahuan, dan digunakan dalam ritual,” kata Ari.

Sementara itu, Koordinator Prodi Sastra Jawa Kuno I Nyoman Suarka menjelaskan, Sastra Jawa Kuna adalah milik bangsa Indonesia. Di dalamnya merepresentasikan jati diri bangsa Indonesia, sebagai sumber jiwa dan nafas bangsa. Buktinya bahasa Jawa Kuna digunakan sebagai falsafah, motto dan ideologi negara. Menurutnya, sastra pra-modern Indonesia ini menyimpan kearifan dengan nilai-nilai universal.

Sastra Jawa Kuna kata dia berkembang dari abad 9 sampai 14, yang sejak keruntuhan Majapahit, kehidupan Sastra Jawa Kuna dibawa ke Bali dan tumbuh serta berkembang di Bali hingga sekarang.

Namun demikian, Suarka menyebut Sastra Jawa Kuna saat ini berada dalam keadaan penuh perjuangan untuk terus bertahan seiring waktu. “Marilah kita semua menumbuhkan kesadaran kita dengan mengangkat kembali Sastra Jawa Kuna, walau dalam hal sekecil apa pun,” ujar Suarka. (er/kb)

Berita Terkait

Back to top button