SosialTabanan

Dajan Peken Desa Tanpa Balita Stunting

TABANAN, Kilasbali.com – Desa Dajan Peken, Kecamatan/Kabupaten Tabanan menjadi salah satu desa tanpa balita stunting. Kepala Desa (Perbekel) Dajan Peken Nyoman Sukanada menyebut keberhasilan itu merupakan buah dari program Rembug Desa yang digelar dua kali setahun.

Sejak 2021, Sukanada menuturkan, Rebug Desa “Rumah Desa Sehat” fokus membahas pengendalian dan pencegahan stunting. Tema-temanya pun dinamis, disesuaikan dengan isu-isu kesehatan kekinian.

“Kami bersyukur belum ada kasus balita stunting di sini. Kami yakin ini salah satu hasil dari rembug desa,” kata Sukanada di sela-sela Kampanye Percepatan Penurunan Stunting di Desa Dajan Peken, Tabanan, Minggu (13/11).

Aliran air bersih dari PDAM setempat didukung dengan sanitasi yang baik, mendukung upaya pengendalian stunting di yang dipimpinnya itu. Ia juga mengalokasikan anggaran dari Dana Desa untuk program pemenuhan gizi balita dan ibu hamil.

Desa Dajan Peken memiliki 10 posyandu atau melebihi tersebar di delapan dusun. Untuk merangsang kepesertaan posyandu, pihaknya rutin menggelar lomba posyandu dan lomba balita sehat.

Kepala Dimas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Tabanan I Nyoman Suratmika menuturkan, prevelansi stunting di Tabanan berdasarkan Survei Status Gisi Indonesia (SSGI) 2022 sebesar 9,2 persen.

Baca Juga:  Kerja Keras Pemkab Tabanan

Suratmika mendengar kabar bahwa SSGI 2022 menunjukkan penurunan. Namun hasil pastinya belum diketahui karena menunggu pengumuman resmi dari pusat. “Tunggu hasilnya dari pusat. Tapi kami yakin turun karena berbagai upaya maksimal yang telah kita lakukan,” kata dia.

Untuk tahun 2024, ia melanjutkan, prevalensi stunting di Kabupaten Tabanan ditarget 5,4 persen. Pihaknya pun optimis target ini tercapai berkat upaya konvergensi lintas sektor. Selain itu, Pemkab Tabanan telah menerjunkan 1500 lebih sumber daya yang tergabung dalam Tim Pendamping Keluarga.

“Kami amati kasus-kasus stunting yang terjadi didominasi faktor pola asuh. Misalnya anak korban perceraian lalu dititip ke neneknya, sama pembantu dan lainnya,” ugkap dia.

Baca Juga:  Dalami Ranperda Inisiatif P4GN Undang Pakar Hukum Adat

Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Bali Luh Gede Sukardiasih mengajak masyarakat menghapus fenomena “sing beling sing nganten” atau tidak hamil tidak menikah yang berkembang di masyarakat padahal itu jelas salah kaprah.

Jika tidak disudahi, fenomena itu akan memicu lahirnya bayi stunting karena tidak direncanakan. Ia juga menyarankan para ibu memberikan asi eksklusif dan makanan bergizi seimbang bagi buah hati.

“Kalau yang susah makan sayur itu bisa diakali kok. Misalnya kasi dia naget kelor. Jadi ibu itu harus kreatif dan sabar. Katanya kerja untuk anak? Iya kan?,” tegasnya.

Baca Juga:  Poltrada Bali Pamerkan Motor Konversi Listrik

Anggota Komisi IX DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana mengapresiasi semangat warga Desa Dajan Peken yang meski dalam guyuran hujan lebat tetap antusias mengikuti kegiatan yang menurutnya super prioritas ini.

“Kenapa kegiatan ini sangat penting? Karena berhubungan dengan generasi emas Indonesia menyambut 100 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Bapak Presiden sampai mengeluarkan Perpres,” kata Kariyasa.

Kariyasa mengingatkan kembali bahwa prevalensi stunting nasional sangat besar yakni 24,4 persen. Artinya satu dari lima balita Indonesia terindikasi stunting. Hal ini tentu tidak dapat dibiarkan.

“Apa jadinya nanti kalau penduduk republik ini banyak yang stunting. Bisa-bisa negara kolaps karene terbebani terlalu besar,” jelasnya. Sehingga ia mengajak seluruh masyarakat mengimplementasikan pengetahuan yang didapat di rumah tangga masing-masing. (eka/bkkbn/kb)

Berita Terkait

Back to top button