GianyarNews UpdatePeristiwaSosial

Kasus Bunuh Diri di Gianyar Terus Bertambah

GIANYAR, Kilasbali.com – Daftar kasus bunuh diri di wilayah Gianyar  semakin menumpuk. Menyusul aksi bunuh diri pasangan suami istri di Blahbatuh, Selasa (22/11), seorang pria uzur didapati tewas tergantung di Ubud. Maraknya kasus ulahpati ini pun sempat disikapi Pemkab Gianyar secara spiritual, namun tanpa upaya nyata secara sekala, kasusnya terus membengkak.

Dari informasi yang diterima, korban bunuh diri di lingkungan Mekar Sari, Padanang Tegal, Ubud diketahui bernama I Ketut Dogol (78). Anak dari korban Ni Nyoman Meitri (50) mendapati ayahnya tergantung sekitar pukul 04.00 WITA.

Saat itu Meitri hendak buang air kecil ke kamar mandi dan langsung berteriak, sehingga warga lainnya terbangun dan berdatangan ke lokasi. Kejadian itu lantas dilaporkan ke Polsek Ubud.

Baca Juga:  Bali Siap Jadi Etalase Produk Kekayaan Intelektual Komunal Indonesia

Kapolsek Ubud, Kompol Gusti Ngurah Yudistira mengungkapkan jika korban diduga nekat mengakhiri hidupnya karena depresi dengan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh.

Atas kematian korban I Ketut Dogol pihak keluarga telah menyatakan menerima secara ikhlas peristiwa tersebut sebagai sebuah musibah dan tidak akan menuntut siapapun.

Sekretaris Dinas Sosial Nurwidyaswanto mengakui, fenomena bunuh diri marak akhir-akhir ini menuai keprihatinan. Dari latar cenderung ke mental health.

Sementara Dinas Sosial sendiri hanya melakukan penanganan pasca dan pra. Seperti pelayanan mobil jenazah, dan pra dalam kemiskinan dibantu melalui program. “Nah sekarang kan yang bunuh diri itu apakah yang miskin saja kan tidak juga,” ujarnya.

Baca Juga:  Piala Dunia Tak akan Mempengaruhi Kunjungan Wisatawan ke Bali

Diakuinya selama ini pihaknya tidak melakukan pencatatan terhadap kejadian tersebut. Begitu pula kajian terhadap fenomena tersebut. Jika faktornya kemiskinan, dalam SK Bupati terdapat 7.554 kk miskin ekstrim di Gianyar. Data tersebut hasil dari pendataan OPD yang ada di lingkungan kabupaten Gianyar.

Terkait fenomena tersebut, Sosiolog Unud, Wahyu Budi Nugroho memandang hal kasus tersebut sebab dari melemahnya support sistem di masyarakat. Bunuh diri merupakan fakta sosial yang dipengaruhi luar diri Individu, bukan semata-mata individu (psikologi).

Dalam hal ini mestinya menurut Wahyu Budi Nugroho pada individu yang memiliki persoalan bisa dibantu oleh orang-orang terdekat. “Paling tidak, ada yang mau mendengar keluh kesah persoalan, walau kerabat dekat tidak bisa membantu, setidaknya ikut mencarikan jalan keluar,” jelas Wahyu.

Baca Juga:  Kunjungi Lansia Agenda Rutin K3S Denpasar

Lemahnya support sistem ini mengakibatkan individu menangguh sendiri persoalannya dan ketika menemui jalan buntu, maka jalan pintas diambil dengan mengakhiri hidup. Lingkungan terdekat dari individu yang mempunyai persoalan, selain keluarga adalah kerabat, teman atau kenalan.

“Sehingga fenomena bunuh diri ini bisa saya sebut sebagai bunuh diri egoistik, dimana individu menyelesaikan persoalan dengan caranya sendiri,” jelasnya.

Jalan keluar yang bisa dilakukan adalah membangun kembali support sistem, di lingkungan masing-masing. “Tentu hal ini dimulai dari keluarga masing-masing, sehingga kalau ada persoalan, keluarga ikut mencari jalan keluar,” tambahnya.  (ina/kb)

Berita Terkait

Back to top button