Ekonomi BisnisGianyarNews Update

Nataru dan Galungan, Harga Cabae Makin ‘Pedas’

GIANYAR, Kilasbali.com – Nataru dan Galungan, harga cabae makin pedas. Semakin banyak permintaan, maka akan harga akan semakin mahal. Fenomena ini menjadi hukum pasar yang kerap terjadi menjelang hari – hari besar. Momentum Natal, Tahun Baru (Nataru) dan Hari Raya Galungan kini menjadi dalih beragam komoditi mengalami kenaikan harga.

Belum lagi, kenaikan harga itu juga dipicu faktor musim ekstrem yang menjadi penghambat produksi pertanian. Cabai, salah satunya kini mulai tunjukan pergerakan peningkatan harga yang dipastikan bakal marathon.
Kondisi ini dibenarkan oleh I Made Suamir, salah seorang petani cabe di Banjar Gelumpang, Sukawati. Disebutkan cabai di sebagian wilayahnya mengalami gagal panen akibat diserang fungisida pada akar.

Disisi lain, sebagian besar petani sudah memasuki masa tanam padi di akhir Desember tahun ini. “Selain banyak yang sudah busuk batang, musim bercocok tanam cabai juga mulai beralih ke padi,” terangnya.

Baca Juga:  Musrenbang Sepakati Program Prioritas
Komoditi cabai yang mengalami gagal panen di subak wilayah Kecamatan Sukawati

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Gianyar, I Wayan Suarta, Senin (12/12) membenarkan kalau ada sebagian petani cabai mengalami gagal panen. Kondisi komoditi cabai ini, daun berguguran, buah busuk dan akar diserang fungisida.

“Ini fenomena alami, pengaruh cuaca. Yang mengalami kerusakan biasanya tanaman padi yang di tanam di persawahan, akarnya diserang fungisida, sehingga daun berguguran dan buah membusuk,” jelas Wayan Suarta.

Namun demikian, kerusakan tanaman ini lebih banyak dialami petani di daerah selatan Gianyar. “Kalau di Gianyar Utara, Payangan, Tegalalang relatif tidak ada kerusakan. Hal ini karena komoditi ini ditanam di tegalan,” tambahnya.

Dijelaskan, untuk tahun 2022 ini luas tanaman cabai di Gianyar seluas 265 hektar. Luasan ini didominasi oleh Kecamatan Sukawati dengan luas tanam 230 hektar lebih. Sedangkan kecamatan Payangan, Tegalalang dan Tampaksiring dengan rata-rata luas tanam 10 hektar.

Baca Juga:  Vaksin Booster Ke-2 Bagi Masyarakat Bali

Sedangkan kerusakan tanaman cabai akibat serangan fungisida ini mencapai 25% luat tanam pada November dan Desember. Ketika ditanya apakah harga akan naik nanti menjelang Hari Raya Galungan, Wayan Suarta menjelaskan hal itu berlaku hukum pasar.

“Pasokan nanti datang dari luar Bali, Jawa atau Lombok, tapi Galungan kan bertepatan dengan Tahun Baru, harga pasti naik. Namun soal harga bukan ranah saya, itu di Disperindag,” bebernya.

Selain kerusakan tanaman padi akibat serangan fungisida, petani di Wilayah Sukawati pada Desember ini harus siap-siap beralih ke tanaman Padi.

Baca Juga:  Disbud Bali Bantah Lomba Utsawa Dharma Gita Berhadiah Miliaran Rupiah

“Wilayah Sukawati, Desember ini harus persiapan masa tanam padi. Sehingga tanaman cabai mesti dibongkar. Kalau tidak, nanti telat tanam dan giliran mendapat air irigasi harus dimanfaatkan waktunya,” ungkapnya.

Komoditi cabai yang mengalami gagal panen di subak wilayah Kecamatan Sukawati. foto/ist

Sehingga menurut Wayan Suarta, mau tidak mau, petani di Sukawati harus bersiap ke tanaman Padi, sehingga di Maret April nanti sudah bisa tanam padi periode kedua.

Disebutkan, untuk pasokan cabai di Gianyar tahun 2022 ini sebagian besar didatangkan dari Wilayah Sukawati dan selebihnya dari Gianyar Utara dan luar Gianyar.

Kata dia, tahun 2022 ini, petani cabai di Gianyar menikmati hasil panen yang bagus, karena harga cabai sempat menyentuh harga Rp 110 ribu. Bila pasokan cabai dari luar Bali mencukupi, maka harga komoditi ini tidak akan melambung tidak terkendali. (ina/kb)

Berita Terkait

Back to top button