DenpasarSeni Budaya

Mimpi dan Refleksi Dua Pelukis Bali 

Memories Dreams and Reflections di Galeri Zen1 Kesiman, Second Floor Coffee, Jalan Bypass Ngurah Rai, Kertalangu, Denpasar

    DENPASAR, Kilasbali.com – Autentik serta unik, mimpi dan refleksi karya dua pelukis muda asal Bali, yakni I Made Dabi Arsana dan I Made Surya Subratha.

    Karya mereka ini tersaji dalam pameran bertajuk ‘Memories Dreams and Reflections’ di Galeri Zen1 Kesiman, Second Floor Coffee, Jalan Bypass Ngurah Rai, Kertalangu, Denpasar.

    Dabi dengan karyanya yang di pamerkan dalam pameran lukisan bertajuk ‘Memories Dreams and Reflections’ di Galeri Zen1 Kesiman, Second Floor Coffee, Jalan Bypass Ngurah Rai, Kertalangu, Denpasar. Foto/jus

    Nah, dalam pameran yang berlangsung selama sebulan dari 4 Februari – 4 Maret 2023, Dabi Arsana menyajikan enam karya, sedangkan Surya Subratha tiga karya termasuk salah satunya seni instalasi bertajuk The Prayer.

    Dua seniman ini diprediksi sangat potensial. Karena, telah berkarya di Singapura hingga pemenang art exhibition. Karyanya unik dan autentik. Memiliki cara tersendiri dalam mengeksplorasi karya-karyanya.

    Kurator Dwi S Wibowo menuturkan, Surya dalam pameran ini mengeksplorasi benda-benda dipadu dengan goresan cat acrylic.

    “Walaupun ada lukisan, Surya mengekpresikan bentuk tidak persegi lagi, tapi mengadaptasi bentuk – bentuk lain. Sama halnya di karya instalasi, mengkombinasikan terracotta dengan bentuk lain. Lukisan sendiri mengadaptasi bentuk bunga. Karya itu dari ingatan kultural dia,” tuturnya di sela-sela pembukaan pameran.

    Terkait Dabi, Dwi menyampaikan karya yang ditampilkan selalu berbingkai. Layaknya tiga dimensi yang memisahkan pengalaman sehari-hari dengan apa yang ada di dalam lukisannya. “Apapun yang ada dalam lukisan Dabi ini, itu adalah mimpi. Dia menciptakan batasan itu,” bebernya.

    Baca Juga:  Tingkatkan Prestasi Pencak Silat, Bupati Sanjaya Resmikan Padepokan Perisai Diri Tabanan

    Direktur Galeri Zen1, Nicolaus F Kuswanto berpendapat, dua seniman asal Bali terpengaruh urban yang berbeda. Satu tinggal di Bali, sedangkan satu lagi di Yogyakarta. “Mereka tumbuh dengan ciri khas masing-masing, dan sangat menarik,” ungkapnya.

    Dabi sendiri, lanjut dia, bertemu di Artjog. “Aku langsung tertarik, karena karyanya menceritakan tentang mimpi. Dan dia menampilkan itu ke dalam kanvas sangat original, dan aku melihat strong Bali-nya sangat kuat,” tuturnya.

    Sedangkan Surya Subratha sendiri, ungkap dia, karyanya menampilkan lukisan tokoh yang lucu, bahkan terkadang ringan. Akan tetapi, pesannya sangat dalam. “Pengalaman keseharian dia tuangkan dalam nuansa modern,” ujarnya.

    Baca Juga:  Tingkatkan Kinerja Sekretariat DPRD Provinsi Bali Luncurkan E-Audiensi

    “Buat aku, mereka berdua mempunyai orisinalitas. Itu kesan pertama yang ada dalam penglihatanku,” imbuhnya.

    Sementara itu, Dabi menuturkan bahwa dirinya dengan Surya, selalu bersama dan berjuang sejak duduk di bangku kuliah. “Kita juga melakukan projek bareng, hingga akhirnya kesampaian berpameran berdua di Zen1 Kesiman ini,” tuturnya.

    Menurut dia, karya yang disajikan adalah tentang mimpi. Baik itu mimpi sendiri maupun rekannya yang dituangkan ke dalam kanvas. Misalnya karya bertajuk Hungry Primates. Dikatakan, karya ini menggambarkan mimpi saat dia kecil dan masih terngiang hingga kini.

    Baca Juga:  Antari Jaya Negara Raih Apresiasi JCI Indonesia Badung Bali

    “Saya mimpi dikerumuni primata, baik itu monyet yang sedang marah, dan saya berada di bawah pohon durian di rumah saya. Ini menggambarkan ketakutan saya, dan akhirnya saya mengerti bahwa ketakutan itu hadir untuk memberi dorongan hidup. Jadi jangan takut bermimpi,” bebernya.

    Surya Subratha tampak di depan karya instalasi The Prayer. foto/jus

    Surya Subrata mengatakan, karya yang disajikan itu merupakan eksplorasi lingkungan sekitar. Benda-benda yang dia lihat, mampu menghadirkan kesadaran. “Jika direnungkan dengan dalam, benda-benda memiliki sisi nilai kesadaran,” ungkapnya.

    Benda-benda itu kerap dia lihat. Apalagi di desa asalnya di wilayah Kapal, Badung yang tersaji banyaknya pedagang di pinggir jalan yang menjual terracotta yang ditata dengan ditumpuk. “Karya saya ini merupakan refleksi diri dengan harapan melalui benda ini bisa memberi kesadaran baru,” pungkasnya.  (jus/kb)

     

    Back to top button