BadungSosialTokoh

Vaksinasi Penting Untuk Cegah Rabies

Dari Sosialisasi BKOW Bali di Kantor Desa Sibangkaja, Badung

    MANGUPURA, Kilasbali.com – Rabies merupakan virus menular melalui gigitan yang selalu fatal pada hewan berdarah panas dan dapat menyerang manusia (zoonosis) yang bisa disebabkan oleh hewan berupa sapi, anjing, kucing, kelelawar, kera dan monyet. Untuk itu, perlu kepedulian bersama untuk mencegah penyebarluasan virus rabies ini.

    Hal ini disampaikan Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Bali, Tjok Putri Hariyani Ardhana Sukawati saat sosialisasi bahaya rabies dan pencegahannya, di Kantor Desa Sibangkaja, Badung, Kamis (2/3).

    Sosialisasi ini bekerjasama dengan Persatuan Istri Dokter Hewan Indonesia (PIDHI) Provinsi Bali, yang merupakan organisasi wanita mewadahi istri-istri dokter hewan, istri-istri sarjana kedokteran hewan, dokter hewan wanita, dan sarjana kedokteran hewan wanita dihadiri oleh kader PKK Desa Sibangkaja.

    Dalam sosialisasi itu, Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, I Nyoman Suartha yang menjadi narasumber menyampaikan materi tentang “Rabies, Pencegahan dan Penanggulangannya”.

    Baca Juga:  Catat Bali Fashion Parade 2024 di TS Suites

    Menurutnya, untuk melindungi hewan peliharaan terutama anjing dan kucing agar tidak membahayakan warga sekitar, maka penting untuk melakukan vaksinasi pada hewan peliharaan. “Karena vaksinasi akan melindungi hewan dari penyakit rabies dan memutus rantai penularan virus rabies,” ungkapnya.

    Pihaknya juga meminta untuk waspada terhadap anjing gila yang air liurnya mengandung rabies. Karena pada umumnya anjing anjing tersebut akan takut kepada sinar matahari dan memilih berkeliaran pada malam atau subuh. Bahkan, hal yang paling perlu diwaspadai adalah saat pergi ke pasar subuh. Apabila ada anjing yang mendekati perlu diketahui bahwa itulah anjing gila yang menyasar kaki untuk digigit dan ditularkan rabies.

    “Apabila ada dari kita yang terlanjur digigit anjing, maka segeralah cuci dengan sabun, karena virus rabies itu bersifat labil, dan mudah rusak dengan sabut dan alkohol 70% serta cepat menguap dalam suhu 60 derajat celcius. Selain itu penting bagi kita lanjut mencari penanganan medis karena virus rabies akan mengalami inkubasi minimal 7 hari dan bisa mencapai hitungan bulan bahkan tahun,” ungkapnya.

    Baca Juga:  Band Indie Rock Galiju Luncurkan Album 'Resonant' 

    Terkait gejala orang yang terkena rabies, kata dia, diantaranya kesemutan di bagian tubuh yang digigit, keluar air liur yang banyak, takut air, takut cahaya, mudah merasa terganggu oleh suara, gerakan bola mata yang ‘aneh’ dan tidak fokus, kejang-kejang, mengalami gejala syaraf yang lain dan kemudian meninggal.

    Sementara itu, Kepala Desa Sibangkaja, Ni Nyoman Rai Sudani mengatakan bahwa di desanya sudah melakukan penanganan rabies sejak tahun 2016 silam. Selain sosialisasi pihaknya juga melakukan penanganan rabies di lapangan dengan melibatkan petugas dari dinas peternakan kabupaten. “Hal ini dilakukannya mengingat warga Desa Sibangkaja sangat menjaga keamanan dan kenyamanan semua pihak,” pungkasnya. (jus/kb)

    Back to top button