DenpasarPemerintahanSosialTokoh

Upaya BKKBN Bali Percepat Penurunan Stunting

    DENPASAR, Kilasbali.com – Perwakilan BKKBN Provinsi Bali terus melakukan upaya percepatan penurunan stunting melalui penekanan intervensi dari hulu dengan melaksanakan Pelatihan Teknis Bina Keluarga Balita Eliminasi Masalah Anak Stunting (BKB-Emas), Senin (8/5).

    Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, dr Luh Gede Sukardiasih menyampaikan, dalam formulasi program yang dituangkan di dalam Peraturan Presiden nomo 72 Tahun 2021 mengarah ke intervensi berbasis keluarga berisiko stunting dengan penekanan intervensi dari hulu.

    Baca Juga:  Ini Dia Kandidat Paritrana Award 2024

    “Tahun ini, strateginya adalah penekanan intervensi dari hulu melalui beberapa strategi antara lain pencegahan kelahiran bayi berpotensi stunting, pengasuhan 1000 hari pertama kehidupan, penguatan basis data intervensi dan monitoring stunting, promosi dan pelembagaan keterlibatan masyarakat dan kemitraan” jelasnya.

    Dikatakan, salah satu penyebab stunting yang perlu diperhatikan yaitu terkait permasalahan dizi. Di Bali berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) prevalensi balita wasted (berat badan menurut tinggi badan) pada tahun 2022 adalah sebesar 2,8 persen, pravelensi balita underweight (berat badan menurut umur) sebesar 6,6 persen dan selanjutnya pravelensi balita overweight (berat badan menurut tinggi) berada pada 1,5 persen.

    Baca Juga:  Bau Tak Sedap dan Kumuh, DLH Sidak Usaha Jual Ayam Potong

    Berdasarkan hal tersebut satus gizi balita di bali termasuk terendah di bawah rata-rata nasional yaitu untuk wasted 7,7 persen, underweight 17,1 persen dan overweight sebesar 3,5 persen. Untuk itu, dia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi dan bekerjasama serta mengapresiasi komitmen dalam menyukseskan program penurunan stunting namun kembali menghimbau untuk tetap menjaga ritme kerjasama kedepannya.

    Baca Juga:  Ombudsman Bali Lagi Kaji Penataan Kabel Semrawut

    “Kita patut bersyukur bahwa Provinsi Bali sebagaimana data SSGI Tahun 2022 di atas memiliki angka terendah di Indonesia. Namun, kondisi yang baik ini jangan sampai membuat kita terlena sehingga lupa untuk meningkatkan kinerja dan berinovasi karena lebih sulit mempertahankan daripada meraih,” pungkasnya. (jus/kb)

     

    Back to top button