CeremonialDenpasarSeni Budaya

Sembilan Anak Keturunan Puri Satria Dalem Kaleran Ditandu Keliling Kuta

    DENPASAR, Kilasbali.com – Sebagai wujud menjaga tradisi warisan leluhur, sembilan anak yang baru menginjak masa remaja keturunan Puri Satria Dalem Kaleran Kuta pada Senin (26/6/2023) diupacarai ‘Munggah Deha Teruna’ yang disebut dengan Ngeraja Sewala untuk anak perempuan dan Ngeraja Singa untuk anak laki-laki. Upacara ini dipuput oleh Ida Ratu Pedanda Putra Bluwangan dari Griya Gede Delod Pasar Sanur, Denpasar.

    Adapun kesembilan anak remaja keturunan Puri Satria Dalem Kaleran Kuta yang diupacarai munggah Deha – Teruna yaitu I Dewa Gede Agung Purwa Rajendra (14 tahun) putra dari pasangan I Dewa Gede Mayun dengan Ida Ayu Komang Puspa Dewi, Dewa Ayu Novita Mahesa Jaya (14 tahun) putri dari Dewa Made Jaya dan Dewa Ayu Putu Suastini, Dewa Ketut Nathan Indra Prabawangsa (12 tahun) putra dari I Dewa Putu Oka Diatmika bersama I Gusti Agung Ayu Widari.

    Selanjutnya, I Dewa Ayu Dahayu Avta Kayana (16 tahun) dan I Dewa Ketut Dhamadhipa Jnanesa (13 tahun) buah hati dari Dewa Ketut Ekajaya dan Ni Nyoman Desniari, Dewa Made Oka Gangga Rama Sunia (16 tahun) dan Dewa Ayu Ketut Shinta Maharani (13 tahun) putra – putri pasangan I Dewa Made Oka Sukarja dengan Desak Made Wirianti, I Dewa Gede Ketut Abirama Wibawa (15 tahun) dan I Dewa Ayu Putu Kayana Natha Swari (12 tahun) putra-putri dari I Dewa Gede Ketut Rimbawa bersama Ni Gusti Agung Oka Trisna Dewi.

    Upacara Munggah Deha – Teruna ini didalam prosesinya diawali dengan upacara ngekeb. Upacara ini dilaksanakan disebuah ruangan/kamar yang dipersiapkan secara khusus dimana sang anak akan dipingit tidak diperkenankan keluar kamar selama satu hari penuh mulai dari upacara ngekeb sampai puncak pelaksanaan upacara keesokan harinya.

    Baca Juga:  Sekda Bali Minta REI Selaraskan Program Kerja

    “Pelaksanaan upacara ngekeb ini tujuan adalah mempersiapkan anak-anak untuk memasuki masa remajanya dengan proses pematangan pikiran, perkataan dan perbuatan sehingga ketika sang anak akan menapaki masa remajanya dapat menjadi pribadi yang betul-betul mandiri dan bertanggung jawab,” jelas I Dewa Gede Mayun selaku Pemucuk Karya Munggah Deha Teruna didampingi I Dewa Putu Manik Selaku Kelian Semeton Puri Satria Dalem Kaleran Kuta.

    Keesokan harinya bertepatan dengan hari kelahiran menurut penanggalan Bali (otonan) salah satu anak yaitu I Dewa Gede Agung Purwa Rajendra yang jatuh pada Soma Pon Gumbreg tanggal masehi 26 Juni 2023 dilanjutkan dengan melaksanakan Upacara Ngeraja Sewala untuk anak perempuan dan Ngeraja Singa untuk anak laki-laki.

    “Tujuannya adalah memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabawa/perwujudan-Nya sebagai Sang Hyang Semara Ratih agar berkenan menganugerahkan sinar suci-Nya sebagai lentera yang akan menuntun anak-anak didalam menjalankan swadarma/ kewajiban hidupnya sebagai anak yg sudah menginjak remaja agar selalu berada dijalan Dharma,” terangnya

    Baca Juga:  Kementerian ATR/BPN Nobatkan Denpasar sebagai Kota Lengkap

    Proses terakhir dari upacara yang juga dihadiri oleh Anggota DPRD Kabupaten Badung I Gusti Anom Gumanti, SH dan I Nyoman Graha Wicaksana, B.COMM, MM, Sekcam Kecamatan Kuta, Jro Bendesa Adat Kuta, Lurah Kuta, Ketua LPM Kelurahan Kuta, Klian Suka Duka Banjar Tegal Kuta, Kepala Lingkungan Tegal Kuta serta undangan lainnya ini adalah pelaksanaan prosesi “Ngunya”.

    Didalam prosesi ini anak-anak yang sudah “terlahir” sebagai manusia baru yang sudah menginjak masa remaja ini akan digayot/tandu oleh para pengabih-pengabih puri melewati jalan-jalan desa di kampung turis Kuta menuju ke Pura Desa Bale Agung. Makna dari prosesi ini adalah untuk memperkenalkan pada anak-anak remaja ini tentang lingkungan masyarakat yang lebih luas diluar lingkungan puri dimana nantinya mereka akan ikut berkiprah dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan sebagai teruna teruni atau yowana di desa adat.

    Lebih jauh Pemucuk Puri Satria Dalem Kaleran I Dewa Gede Mayun menyatakan secara keseluruhan makna upacara ‘Munggah Deha Teruna’ ini adalah merupakan upacara Dewa Yadnya yang dilaksanakan sebagai wujud tanggung jawab orang tua kepada anak-anaknya dalam memberikan bimbingan dan membina anak-anaknya didalam setiap jenjang kehidupannya agar dapat berkembang secara baik, mandiri dan bertanggung jawab sejalan dengan pertambahan usia mereka.

    Baca Juga:  Pemerintah Provinsi Bali Raih WTP untuk ke-11 Kali

    “Serta sebagai wujud doa dan syukur orang tua kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena putra putri kami sudah dapat melewati setiap fase kehidupannya dari mulai didalam kandungan sampai menginjak masa remaja dapat berjalan dengan baik dan anak-anak selalu berada dalam keadaan sehat. Inilah sesungguhnya perwujudan dari cinta dan kasih tanpa batas dari orang tua terhadap anak-anaknya,” pungkasnya. (m/kb)

    Back to top button