DenpasarNews UpdateSeni Budaya

Wisatawan Asing Antusias Saksikan Gambang Pesta Kesenian Bali

    DENPASAR, Kilasbali.com – Wisatawan asing antusias menyaksikan rekasadana (pergelaran) Gambang, yang dipersembahkan Sanggar Sudamala, Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung sebagai Duta Kabupaten Klungkung serangkaian dengan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV, Kamis (6/7/2023).

    Ketika, anggota sanggar ini sedang berhias, bule dengan pasangan juga bersama keluarganya itu sudah duduk masih di Kalangan Angsoka, tempat pergelaran itu berlangsung. Mereka berbaur dengan masyarakat local yang kebanyakan para orang tua.

    Suasana pergelaran kesenian klasik itu memang beda. Para penonton lebih banyak menikmati dari hati, bukan sorak-sorak ataupun riuh. Mungkin saja, karena menyajikan kesenian klasik yang lebih banyak dipentaskan terkait dengan upacata dewa yadnya ataupun pitra yadnya, yakni Gamelan Gambang dan Gamelan Saron.

    “Kami menyajikan pupuh yang sudah diwarisi oleh leluhur kami. Bahkan, kami tak berani menambah ataupun mengurangi dari esensi pupuh tersebut,” kata pendiri Sanggar, Mangku I Nyoman Sukarya.

    Baca Juga:  Jalan Sehat Pedungan Village Festival 2024, Arya Wibawa Lepas Burung

    Dalam pergelaran itu, menampilkan penabuh dari generasi tua dan generasi muda. Bahkan, melibatkan seorang sepuh dibidang Pupuh Gambang. Pada kesempatan itu, Sanggar Sudamala menyajikan Pupuh Gambang, seperti Pemungkab Lawang, Panji Marga, Demung, Manukaba atau Mayura dan Pupuh Wargasari.

    Selanjutnya menampilkan Gamelan Saron yang menyajikan 5 pupuh, seperti Pupuh Abuang, Ratna Mangelo, Ida Bagus Botok, Gedang Renteng dan Semuran Abuang.

    Mangku Sukarya mengatakan, semua itu pupuh itu tergolong lama dan masih orisinil yang memang pupuh asli yang dipelajari dari leluhurnya. Semua itu merupakan tabuh cikal bakal gamelan gambang dan sarong yang ada di Desa Tangkas.

    Baca Juga:  Piraeus Yunani Jajaki Kerjasama dengan Kota Denpasar

    “Kami tak menampilkan gending baru. Pupuh ini sudah turun-temurun, karena di Tangkas, Klungkung memang cikal bakal gamelan tua yang dalam kontek upacara keagamaan baik pitra yadnya maupun dewa yadnya,” katanya.

    Masyarakat Klungkung selalu mencari gamelan gambang di Tangkas. Selain itu, di Tangkas juga ada Saron dan Gong Luwang. Karena itu, sanggar yang berdiri sejak 1994 ini terus menggali pupuh klasik yang ada.

    “Pupuh ini memang kami pelajari secara turun-temurun. Leluhur kami memang semua pemain gambang dan saron. Maka itu, kami berupaya terus menggali agar gamelan ini tidak punah. Kalau hanya berbicara finansial, mungkin tak akan menarik bagi generasi musda, tetapi kami mencoba memberi pemahaman, bagimana kelangsungan gamelan ini dalam kontek upacara,” paparnya.

    Baca Juga:  Posyandu Intervensi Serentak Cegah Stunting Denpasar, Begini Penjelasan Jaya Negara

    Walau demikian, sedikit demi sedikit, pihaknya akan melangkah kedepan agar gamelan ini terus dipelajari. Wlaupaun dalam permaian tingkat kiesulitannya tinggi. Untuk bermain dan mempelajari gamelan ini sangat sulit, tetapi bagaiman cara memberikan dukungan moral kepada generasi muda untuk mencintai.

    “Saya tetap berupaya, dalam event ini kebetulan dipercaya oleh Disbud Klungkung sebagai mana tujuan yang 60 persen sebagai bentuk penggalian dan pelestarian, maka kami belum berani mengembangkan gamelan ini baik untuk mengiringi tari ataupun yang loinnya. Tetapi, dalam kontek upacara kami tetap mempertahakan pakem gamelan Saron dan Gambang sesuai dengan kebiasaan kami di Tangkas,” tekadnya. (rl/kb)

    Back to top button