DenpasarSeni Budaya

“Lautan Bernyanyi” di Panggung Festival Seni Bali Jani

    DENPASAR, Kilasbali.com – Tak percuma Teater Legion 28 datang jauh-jauh dari Tasikmalaya, Jawa Barat ke Bali. Sebab, pementasan Teater Modern “Lautan Bernyanyi” karya Putu Wijaya di panggung Festival Seni Bali Jani (FSBJ) ke-V tahun 2023 di Taman Budaya Bali, Denpasar, Minggu (23//7/2023) sukses membuat kagum penonton.

    Tata panggung dengan menghadirkan kapal pinisi, menggambarkan suasana pesisir disajikan apik dengan dukungan multimedia berupa dekorasi tata cahaya dan video mapping. Karya yang didukung 70 orang diantaranya 15 orang sebagai aktor tersebut telah dipersiapkan dengan baik dan  dialog-dialog segarpun  disajikan dengan lugas.

    Sutradara, Bode Riswandi ditemui usai pementasan, mengaku puas dengan perjuangan timnya, mengingat tantangan yang dihadapi selama masa persiapan relatif berat.

    “Begitu dapat agenda dari panitia, kami langsung tertarik mengikuti tearter karena ada platform modern menggunakan multimedia. Sebenarnya sudah lumrah tapi kami ingin mengejawantahkan seperti apa bentuknya. Kami menghadirkan laut dalam bentuk sebenarnya lewat mapping tadi,” jelas Bode.

    Baca Juga:  Disbud Klaim Persiapan PKB 2024 Sudah 90 Persen

    Menariknya, semua bahan pendukung pementasan yang digunakan bisa didaur ulang sesuai aturan panitia. “Kami merasa rejeki kami di undang ke Bali,” imbuhnya.

    Tantangan yang dihadapi Bode, yakni perbedaan kultur Bali dengan pemainnya. Sehingga pihaknya memerlukan waktu tiga minggu membedah dan menghafal naskah.

    Pihaknya terlebih dulu membedah energi Putu Wijaya yang di usianya ke 23 tahun sudah bisa membuat naskah luar biasa. “Kami pelajari dulu bagaimana kultur di Bali yang ada di dalam naskah. Karena naskah ini bermain tentang mitologi. Kami yang dari luar akhirnya buka-buka referensi tentang apa itu leak dan sebagainya,” urainya.

    Baca Juga:  Pemkot Denpasar Pertahankan Opini WTP 12 Kali Berturut

    Demi menyajikan pertunjukan yang memukau, menurut Bode, pemainnya rela tidak pulang kampung saat Hari Raya Idul Fitri. Ini adalah bentuk totalitas dan loyalitas bagi para seniman.

    “Laut Bernyanyi” menceritakan pupusnya karir Kapten yang berpengalaman telah berpengalaman akibat anak buah Harimau Laut melanggar mitos yang berlaku di Sanur.

    Bermula dari itulah kisah harimau laut yang terdampar di laut Sanur membuat kapten mengidap kecemasan akut. Hanya Comol yang setia menemani Kapten. la ikhlas menerima kegembiraan, kemarahan, halusinasi, dan kesepian yang hidup di atas harimau laut selama keterdamparannya.

    Baca Juga:  Indonesia Cetak Berbagai Rekor di WWF ke-10

    Selepas para anak buah Harimau Laut meninggalkan kapalnya demi mempertahankan hidup, tinggallah Kapten dan Comol yang berusaha mencari jalan keluar dari laut sanur ini.

    Keterdamparan yang sudah disadari Comol jauh-jauh hari yang diakibatkan oleh firasat buruk dan hal mistik, tidak lekas membuat Kapten memercayainya.

    Bagi Kapten, dunia ini ada hal yang materialistik yang harus diperjuangkan dengan akal sehat dan perjuangan. Akan tetapi, bisikan- bisikan dan suara yang entah dari mana datangnya, yang berhari-hari manghantui Kapten, membuatnya gelisah dan harus memecahkan misteri ini.

    Syahdan, Harimau Lautpun berhasil berlayar. Namun Kapten harus menerima kenyataan, pelayaran yang selama ini dinanti-nantikan harus ditebus dengan kematian teman paling setia ditangannya sendiri. (rl/kb)

    Back to top button