BulelengSosial

Ini Desa yang Sukses Kendalikan Stunting di Bali

    BULELENG, KilasBali.com – Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, menjadi salah satu desa yang sukses mengendalikan prevalensi stunting. Salah satu strateginya adalah menggenjot program-program kesehatan masyarakat.

    Hal itu dikatakan Perbekel Desa Sambangan, Nyoman Sudarsana, dalam kegiatan “Promosi dan KIE Program Percepatan Penurunan Stunting di Wilayah Khusus”, Jumat (25/8/2023), di Buleleng.

    Sudarsana mengungkapkan, 30 persen dana desa digunakan untuk mendukung program Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) untuk ibu hamil, menyusui, baduta, balita, remaja hingga lansia.

    Selanjutnya Sudarsana meminta bimbingan dari pemerintah kabupaten dan Komisi IX DPR RI selaku eksekutif dan legislatif yang membidangi persoalan kesehatan, khususnya stunting.

    “Kami sangat berterima kasih karena desa kami telah dua kali beruntun mendapatkan pencerahan tentang stunting dari BKKBN dan Komisi IX DPR,” jelasnya.

    Pemerintah Kabupaten Buleleng, diwakili Kepala Dinas Kesehatan, Sucipto, mengingatkan, penurunan stunting merupakan program prioritas nasional.

    Bahkan, Presiden Joko Widodo menargetkan prevalensi stunting di Indonesia turun menjadi 14 persen di tahun 2024.

    Baca Juga:  Menko Marves Sebut Kesuksesan WWF 2024 Berkat Jokowi

    Target itu di bawah standar WHO 20 persen. Target selanjutnya, di tahun 2030 hingga 2045, Indonesia benar-benar terbebas dari stunting menyambut Indonesia Emas.

    “Sebelumnya pada tahun 2021, angka stunting nasional mencapai 24 persen lebih. Artinya, 5,33 juta bayi terkena stunting. Syukur atas upaya bersama kita mampu menurunkannya,” kata Sucipto.

    Mewakili Pj Bupati Buleleng, Sucipto mengapresiasi kepedulian anggota Komisi IX DPR RI I Ketut Kariyasa Adnyana, yang menurutnya sangat peduli terhadap warga Bali dan Buleleng khususnya.

    Kariyasa tidak hanya hadir dalam pengentasan stunting, tetapi soal rabies, demam berdarah dan persoalan kesehatan lainnya.

    Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali Sarles Brabar, kembali menyampaikan, jargon BKKBN tidak lagi “dua anak cukup” namun menekankan kualitas.

    “Jadi, bapak/ibu punya anak berapa, silahkan. Tetapi yang penting berkualitas dengan rencana yang matang,” jelas Sarles.

    Penurunan stunting di Provinsi Bali, lanjut Sarles Brabar, sudah dioptimalkan dengan pemberian Dana BOKB non fisik yang diharapkan dapat digunakan Kabupaten/Kota untuk menjalankan optimalisasi program yang mendukung percepatan penurunan stunting.

    Baca Juga:  Mahendra Jaya Sebut Tida Ada Arahan untuk Membubarkan Kegiatan PWF di Bali

    Sedangkan di tingkat Provinsi dilakukan koordinasi dengan tim percepatan penurunan stunting (TPPS) di tingkat provinsi, kabupaten dan kota.

    “Jadi, ini semua satu kesatuan yang dilakukan. Diharapkan percepatan penurunan stunting ini dikerjakan secara pentahelix. Kita melihat waktu kita sangat singkat. Target kita secara nasional di tahun 2023 bisa saja kita harus turun 18 persen karena di tahun 2024 kita mengejar 14 persen,” jelasnya.

    Sarles Brabar juga memuji langkah perbekel Sambangan yang sangat responsif terhadap program pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

    K0egiatan “Promosi dan KIE Program Percepatan Penurunan Stunting di Wilayah Khusus”, Jumat (25/8/2023), di Buleleng. Foto/dian

    Sementara itu, Kariyasa Adnyana, berpandangan, program pemerintah desa sudah bagus, namun perlu didukung oleh elemen masyarakatnya terutama kalangan remaja untuk meningkatnya lagi.

    Dukungan tersebut, menurut dia, bisa diwujudkan dengan menghindari pernikahan di bawah umur. Karena dari hasil riset, anak-anak stunting sebagian besar lahir dari orangtua di bawah umur.

    Baca Juga:  Indonesia Cetak Berbagai Rekor di WWF ke-10

    “Gunakan pola 21-25. 21 tahun usia menikah minimal untuk perempuan dan 25 tahun untuk lelaki. Selain itu hindari 4T (Terlalu) yang sudah familiar di telinga kita,” pesannya.

    Keberhasilan Bali sebagai provinsi dengan prevalensi terendah nasional 8 persen, lanjutnya, patut disyukuri, terlebih prestasi itu dicapai di tengah hantaman Pandemi Covid-19. Angka tersebut wajib diturunkan kembali menjadi 6 persen atau bahkan setidaknya 2 persen.

    “Jika Bali berhasil mewujudkan zero stunting atau setidaknya 2 persen ini bisa membantu branding Bali untuk meningkatkan kunjungan wisata itu sendiri. Yang perlu ditingkatkan adalah pendampingan Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang sudah hadir di masing-masing wilayah karena ini program yang bagus,” jelasnya.

    Kegiatan ini dihadiri lebih dari 400 warga. Sebagai penyemangat, hadirin disuguhi hiburan kesenian bondres serta berbagai door prize menarik. Tokoh masyarakat sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Buleleng Putu Mangku Budiasa juga tampak hadir. (dian/kb)

    Back to top button