GianyarNews UpdatePeristiwaSosial

Pengguna Aktif Narkotika di Bali 15 Ribu

Konsolidasi Tanggap Narkotika di Kabin Pesawat

    GIANYAR, Kilasbali.com – Pergerakan pemberantasan narkotika sepintas masih terkesan parsial. Konsolidasi lintas sektor pun dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Gianyar. Memilih tempat di kabin pesawat ‘Keramas Aero Park’ Blahbatuh, Rabu (18/10), BNNK Gianyar libatkan guru dan siswa.

    Selain kalangan pendidik dari sejumlah SMP, SMA dan SMK di Kabupaten Gianyar, BNNK juga melibatkan  pengusaha atau swasta, serta sejumlah instansi di Pemkab Gianyar, Kejaksaan Negeri Gianyar, dan Polres Gianyar, serta Kodim Gianyar.

    Dua narasumber di datangkan yakni, PJ Bupati Gianyar yang diwakili oleh Kepala Kesbangpol Gianyar dan Direktur Kampus Monarch, I Nengah Budiarta.

    Kepala BNNK Gianyar, AKBP I Gusti Agung Alit Adnyana mengatakan, dunia ini sangat indah, jangan disia-siakan untuk memikirkan hal yang negatif, terlebih lagi untuk narkotika.

    Baca Juga:  Manfaatkan Sisi Positif WWF ke-10

    Dia menegaskan, konsolidasi bertema ‘kota tanggap narkoba’ ini diadakan, dikarenakan Kabupaten Gianyar belum tanggap narkoba.

    “Kita belum tanggap terhadap bahaya narkotika, karena itu, kami mengajak untuk tanggap. Karena sudah banyak sekali korban, sudah banyak teman di lingkungan kerja kita yang menjadi korban,” ujarnya.

    AKBP Alit Adnyana menjelaskan, penyalahgunaan narkotika tak memandang status sosial, tak melihat jabatan maupun pangkat, banyak oknum penegak hukum, oknum guru atau ASN yang kena.

    Baca Juga:  UNESCO Tetapkan Subak Bengkel Sebagai Demo Site Ecohydrology

    “Karena itu kami tak pernah bosan mengingatkan bahaya narkotika. Apalagi Kota Gianyar belum dapat nilai tinggi di ranah pemberantasan narkotika. Itu dikarenakan belum banyak yang melakukan aksi terkait Inpres pencegahan narkotika,” ungkapnya.

    Alit Adnyana menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian, di Bali saat ini ada 15 ribu pengguna aktif narkotika. Pihaknya pun menduga saat ini jumlahnya meningkat.

    “Menjadi pengedar, biasanya dikarenakan untuk memenuhi keinginannya di bidang ekonomi, ingin beli Hp, motor atau apa, lalu bagaimana cara agar cepat mendapatkan uang, maka larinya ke sana. Tanpa mereka sadar bahaya yang akan diterima, yaitu, selain penjara tentu rong telu (kematian),” ujarnya.

    Baca Juga:  Pemerintah Provinsi Bali Raih WTP untuk ke-11 Kali

    Kepala Kesbangpol Gianyar, Dewa Amartha yang mewakili Pj Bupati, menyoroti merosotnya budi pekerti anak-anak. Menurut dia, hal tersebut akan menjadi celah masuknya narkotika.

    “Karena itu, kami meminta agar guru-guru lebih peka terhadap anak didiknya, sehingga peran pendidikan lebih maksimal dalam pencegahan narkotika,” ujarnya. (ina/kb)

    Back to top button