TabananTokoh

Ratusan Hektare Sawah di Subak Luwus I Kesulitan Dapat Air

    TABANAN, Kilasbali.com – Usaha pertanian di Subak Luwus I, Desa Cau Belayu, Kecamatan Marga sudah lama macet karena kesulitan memperoleh aliran air.

    Kondisi ini diakibatkan saluran irigasi yang macet akibat terowongan yang terhubung dengan Dam Temacun-Luwus-Carangsari mengalami sedimentasi atau pengendapan lumpur.

    Pengendapan ini membuat para petani di Subak Luwus I kesulitan bercocok tanam di saat musim kemarau. Bahkan untuk menanam palawija sekalipun.

    “Tingginya endapan sudah mencapai lebih dari satu meter,” ungkap Pekaseh Luwus I, I Made Puspa, usai menyampaikan aspirasi ke Komisi II DPRD Tabanan, Selasa (7/11).

    Ia menjelaskan, keadaan pada terowongan tersebut sudah sering terjadi sejak tahun 80-an hingga sekarang.

    Baca Juga:  Stoknya Terbatas, Beras Merah Cendana Lagi Langka

    Terowongan tersebut memiliki tinggi dan lebar sekitar 1,5 meter. Panjangnya sekitar 400 meter dan kedalamannya sekitar 25 meter.

    Terowongan tersebut juga bersebelahan dengan saluran air yang mengalir ke arah Desa Carangsasi di Kabupaten Badung.

    Made Puspa menyebutkan, akibat pengendapan tersebut ratusan hektar sawah di lingkungan Subak Luwus I tidak bisa bercocok tanam.

    “Kalau musim hujan bisa tanam padi. Kalau kemarau mau menanam padi tidak bisa. Kalau daerah lain kan bisa,” imbuhnya.

    Ia menambahkan, dampak paling parah mulai dirasakan sejak Maret 2022 atau sekitar satu setengah
    Maret 2022 lalu. Para petani di Subak Luwus I sampai tidak bisa menanam palawija.

    Baca Juga:  Menteri Pengairan Tiongkok Antusias dengan Sistem Pengairan Subak

    “Pernah mencoba (tanam) tapi gagal panen. Sekarang tidak bisa menanam apapun. Termasuk palawija,” jelasnya.

    Menurutnya, kalau saja ada aliran air dari Dam, para petani bisa menggarap lahannya. Namun, ketiadaan air membuat para petani banyak yang memilih bekerja keluar desa.

    Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Tabanan I Wayan Lara menyebut pendangkalan yang terjadi pada saluran irigasi menuju Subak Luwus I akan mendapatkan prioritas penanganan.

    “Terowongan itu harus dikuras terlebih dulu. Pengerukan itu poinnya terlebih dulu,” kata Lara yang saat itu didampingi anggota Komisi II I Gede Oka Winaya.

    Baca Juga:  Sanjaya Komit Kembangkan Kampung Buah di Tabanan

    Menurutnya, biaya pengerukan tidak terlalu besar. “Paling tidak hanya Rp 25 juta,” imbuhnya seraya menyebut akan segera berkoordinasi dengan Bupati Tabanan soal ini.

    Ia menambahkan, persoalan irigasi ini juga perlu diselesaikan secepatnya. Karena ini juga yang mempengaruhi program-program pertanian atau ketahanan pangan tidak bisa berjalan di Subak Luwus I.

    “Karena dari tahun ke tahun permohonan sampai dengan proposal tidak ada satupun terealisasi. Ini akan kami koordinasikan ke Bupati Tabanan,” tukasnya. (c/kb)

    Back to top button