Tabanan

Memprihatinkan, Seorang Warga Bangli Derita Kulit Bersisik dan Hidup Sebatang Kara

    TABANAN, Kilasbali.com – Nasib memprihatinkan dialami Ni Luh Meri (49) dari Banjar Uma Poh, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti.

    Bagaimana tidak, selain harus hidup sebatang kara sepeninggal kedua orang tuanya dan kakak adiknya pergi menikah, ia juga mengalami penyakit kulit bersisik di sekujur tubuhnya.

    Penyakit tersebut bahkan sempat membuat Meri depresi hingga sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli.

    Saat ini, Meri hidup berbekal perhatian dari salah seorang tetangganya yang kebetulan menjabat Kelian Banjar Dinas Uma Poh, I Wayan Rianta.

    Selain itu, sekarang Meri menjalani pengobatan yang telah difasilitasi Yayasan Cipta Bali dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan.

    Baca Juga:  Pantai Yeh Gangga Masuki Musim Lobster, Nelayan Mulai Pasang Bubu

    Rianta menuturkan, Meri sudah menderita penyakit kulit bersisik sejak SMP. Semula keluhannya hanya gatal saja. Namun seiring waktu, kondisinya semakin parah.

    “Sekarang jalan saja susah karena di bagian selangkangan kaki sakitnya sudah menyebar,” jelas Rianta, Jumat (24/11).

    Kondisi itu membuat Meri tidak bisa beraktivitas dan hanya tinggal di rumah. Padahal sekitar lima tahun lalu, Meri masih sempat bekerja sebagai buruh di sawah.

    Rianta menambahkan, selain yayasan dan pemerintah, pengobatan Meri juga mulai mendapatkan perhatian dari Pemerintah Desa Bangli.

    Apalagi, sebelumnya Meri sejatinya sempat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Umum Pusat Ngoerah di Sanglah dan RSUD Tabanan. Tapi, karena terbentur biaya, pengobatan Meri saat itu tidak berlanjut.

    Baca Juga:  Koster Sebut Komunikasi dengan De Gadjah Masih Lanjut

    “Sekarang yang bersangkutan sudah memiliki BPJS KIS sehingga perawatanya bisa lebih maksimal,” akunya.

    Secara terpisah, Humas Yayasan Cipta Bali, Ni Luh Dita Karniti, menyebutkan bahwa penyakit yang diderita Meri semakin parah.

    Sebab, penyakit tersebut sudah membuat Meri merasa gatal dan perih hingga sulit berjalan. “Kulitnya mengelupas dan lukanya berbau,” jelasnya.

    Dita menambahkan, kondisi penyakit itu juga membuat Meri tidak bisa bekerja berat. Ini pula yang menyulitkan Meri memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Termasuk untuk makan.

    Baca Juga:  Bawaslu Tabanan Persoalkan Coklit Tak Prosedural di Sejumlah KK

    Saat ini, kebutuhan makan Meri setiap harinya dibantu oleh tetangganya. Meskipun, menurut Dita, Meri masih bisa masak. “Mandi masih bisa karena sudah dibuatkan kamar mandi khusus,” imbuhnya.

    Mengenai perawatan medis, Dita menyebutkan bahwa Meri sudah mendapatkan penanganan maksimal. Bahkan, sekitar satu minggu lalu, Meri sempat menjalani perawatan di RS Singasana.

    “Kami juga akan berkoorinasi dengan saudara Meri agar saat perawatan nanti ada yang menunggunya,” sebutnya. (c/kb)

    Back to top button