Ekonomi BisnisTabanan

Harga Cabai Melonjak Menjelang Nataru

    TABANAN, Kilasbali.com – Sejumlah harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional di sekitar Kabupaten Tabanan mengalami kenaikan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

    Salah satu kebutuhan pokok yang paling mencolok kenaikan harganya adalah cabai merah besar yang kini mencapai Rp 80 ribu per kilogram.

    Selanjutnya cabai rawit kecil mengalami kenaikan yang sama. Padahal keduanya semula berada di kisaran Rp 35 ribu per kilogram.

    Gambaran kenaikan harga ini salah satunya terpantau di Pasar Kediri. Di luar cabai, harga kebutuhan pokok lainnya tidak mengalami kenaikan.

    Baca Juga:  Polres Tabanan Ringkus Dua Pembobol Bengkel Las-Pelaku Curanmor

    Kebutuhan pokok lainnya yang terpantau masih tetap harganya adalah beras medium dan minyak goreng yang masih di harga Rp 15 ribu per kilogram.

    Selanjutnya daging babi Rp 70 per kilogram, bawang putih Rp 33 ribu per kilogram, bawang merah Rp 28 ribu per kilogram dan gula 17,5 ribu per kilogram.

    Kondisi harga kebutuhan pokok menjelang Nataru ini sedang menjadi perhatian Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Tabanan.

    Baca Juga:  Partisipasi Pemilih Pemilu 2024 di Tabanan Mencapai 88,8 Persen

    Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tabanan, Ni Made Murjani, menyebut kenaikan harga bahan pokok paling terasa pada komoditas cabai.

    “Menurut data yang kami terima dari bulan sebelumnya, kenaikan ini memang ada, dari bahan pokok cabai khususnya hingga saat ini kurang lebih di kisaran Rp 80 ribu per kilonya dari sebelumnya di harga Rp 35 ribu,” ungkapnya.

    Menurutnya, kenaikan harga cabai di sejumlah pasar dikarenakan permainan tengkulak di pasar. Jika stok di pedagang pasar sudah menipis, maka harga langsung dinaikkan.

    Baca Juga:  Dua Pendaki Tersesat di Gunung Batukaru

    Meski demikian, ia memastikan dari hasil pengawasan rutin, pasokan cabai masih dalam kategori aman.

    Disinggung kemungkinan akan adanya pasar murah, Murjani mengatakan pihaknya tidak akan melaksanakan kegiatan tersebut khusus Nataru.

    Sebab, sambungnya, kegiatan pasar murah hanya dilakukan dua kali dalam setahun. Sebagai gantinya, pihaknya akan melakukan operasi pasar bila terjadi kenaikan harga yang signifikan.

    “Kami lihat kondisi pasar. Jika diperlukan kami akan lakukan operasi pasar sebagai antisipasi,” tukasnya. (c/kb)

    Back to top button