DenpasarSeni Budaya

‘Megibung’, AMP NKRI Sambut Hari Raya Galungan dan Kuningan

    DENPASAR, Kilasbali.com – Menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan, Aliansi Masyarakat Pembela Negara Kesatuan Republik Indonesia (AMP NKRI) melakukan tradisi ‘megibung’.

    Mengibung ini berlangsung di Sekretariat AMP NKRI di Mirabaliku, Jalan Tantular, Denpasar, Selasa (27/2).

    Megibung merupakan tradisi makan bersama yang berasal dari Kabupaten Karangasem, dan tradisi ini memiliki berbagai makna. Salah satunya kebersamaan.

    “Ini sebagai simbul bahwa persaudaran kami di AMP NKRI selalu bersama, baik susah maupun senang,” ungkap Ketua AMP NKRI, Ni Ketut Mira Andayani.

    AMP NKRI, lanjut dia, juga menyampaikan selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan.

    Baca Juga:  Badung Angelus Buana di Karangasem, Giri Prasta Wujudkan Nawacita Jokowi

    Dikutip dari website karangasemkab.go.id, tradisi megibung ini dikenalkan oleh Raja Karangasem yaitu I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi.

    Ketika pada saat itu, Karangasem dalam ekspedisinya menaklukkan Raja-raja yang ada di tanah Lombok.

    Ketika istirahat dari peperangan, raja menganjurkan semua prajuritnya untuk makan bersama dalam posisi melingkar yang belakangan dikenal dengan nama megibung. Bahkan, raja sendiri konon ikut makan bersama dengan prajuritnya.

    Baca Juga:  Ngrombo Demi Pembangunan Terintegrasi di Bali

    Megibung dimulai dari masak masakan khas traditional Bali secara bersama-sama, baik itu nasi maupun lauknya.

    Setelah selesai memasak, warga kemudian menyiapkan makanan itu untuk disantap. Nasi putih diletakkan dalam satu wadah yang disebut gibungan, sedangkan lauk dan sayur yang akan disantap disebut karangan.

    Tradisi megibung ini  dilangsungkan saat ada upacara adat dan keagamaan di suatu tempat, terutama di daerah Karangasem, misalnya dalam Upacara yadnya seperti pernikahan, odalan di pura, ngaben, upacara tiga bulanan, dan hajatan lainnya.

    Pada kegiatan ini biasanya yang punya acara memberikan undangan kepada kerabat serta sanak saudaranya guna menyaksikan prosesi kegiatan upacara keagamaan tersebut. Sehingga prosesi upacara dapat berlangsung seperti yang diharapkan.

    Baca Juga:  ASN Se-Bali Diminta Jaga Netralitas Pemilu

    Ada beberapa etika yang perlu diperhatikan saat acara megibung, sebelum makan kita harus cuci tangan terlebuh dahulu, tidak menjatuhkan remah/sisa makanan dari suapan, tidak mengambil makanan di sebelah.

    Jika salah satu sudah merasa puas dan kenyang dilarang meninggalkan temannya, walaupun aturan ini tidak tertulis tapi masih diikuti peserta makan megibung. (jus/kb)

    Back to top button

    Berita ini dilindungi