Tabanan

Desa Megati Bersiap Diri Menjadi Kampung Alpukat

    TABANAN, Kilasbali.com – Desa Megati yang terletak di Kecamatan Selemadeg Timur sedang menyiapkan diri sebagai kampung alpukat.

    Sebagai permulaan ke arah itu, wacana itu dilakukan dengan menanam pohon alpukat pada lahan seluas lima hektar.

    Upaya menjadikan Desa Megati sebagai kampung alpukat ini dilakukan untuk mengatasi problem alih fungsi lahan.

    Apalagi, lahan persawahan di wilayah Desa Megati sebagian besarnya masuk kategori tadah hujan.

    Ini membuat aktivitas menanam padi hanya bisa dilakukan bilamana sedang musim hujan.

    “Jadi kami coba untuk memberikan solusi. Tujuannya supaya lahan (sawah tadah hujan) yang terbengkalai bisa tergarap sehingga ada wacana untuk membuat Desa Megati sebagai kampung alpukat,” jelas Perbekel Desa Megati Dewa Nyoman Sukerta, Minggu (24/3).

    Ia menyebut dipilihnya alpukat sebagai komoditas yang dikembangkan karena banyak diminati di masyarakat.

    Baca Juga:  Sekaa Teruna di Badung Jaga Identitas dan Kekayaan Bali

    Selain itu, superfood tersebut juga memiliki kandungan lemak tak jenuh yang kaya dan bisa diolah sebagai produk kecantikan.

    Karena banyak manfaatnya, alpukat memiliki harga yang sangat menggiurkan. Di pasara, alpukat bisa dijual dengan harga Rp 50 ribu per kilogram.

    Soal pengembangan Desa Megati sebagai kampung alpukat, sejauh ini wacana itu baru diawali dengan penanaman pada lahan seluas lima hektar dengan melibatkan Komunitas Kerta Bumi Tani.

    Baca Juga:  Serahkan Hibah Rp 2,1 Miliar di Tampak Gangsul, Bukti Konkret Komitmen Bupati Giri Prasta Ringankan Masyarakat Bali

    Alpukat yang ditanam tersebut jenis miji dan kuba. Kedua alpukat tersebut merupakan alpukat mentega terbaik karena rasanya enak dan legit.

    Selain itu, keduanya cocok ditanam di dataran rendah seperti di Desa Megati yang memeliki ketinggian 106 meter di atas permukaan air laut.

    “Selain itu dalam hal perawatan tidaklah susah. Tinggal rajin menyemprotkan pengendali hama,” jelasnya.

    Sekarang, pohon alpukat yang ditanam itu sudah berusia setahun. Ia berharap masyarakat lainnya ikut menambah luas tanam tersebut dengan ikut melakukan penanaman sendiri.

    “Masyarakat kami di sembilan banjar atau di luar komunitas sudah ada yang ikut menanam. Jumlahnya rata-rata baru sepuluh pohon,” ungkapnya.

    Baca Juga:  30 Napi Lapas Tabanan Jalani Assessement Lanjutan di Program Rehabilitasi Sosial

    Ia sangat berharap, pengembangan Desa Megati sebagai kampung alpukat banyak dimotori generasi muda.

    Untuk itu, berbagai pemahaman mengenai keberadaan kampung alpukat sebagai ladang pekerjaan telah diberikan.

    “Memang dalam urusan bertani tidak bisa instan. Harus dilakukan bertahap. Kami akan lakukan pelan-pelan,” ujarnya.

    Alpukat yang ditanam pada lahan seluas lima hektar itu membutuhkan waktu tiga tahun untuk bisa dipanen. Sembari menunggu masa panen, komunitas yang dilibatkan dalam program ini juga menanam pepaya dan cabai. (c/kb)

     

    Back to top button