Seni BudayaTokoh

Peringatan Weton sebagai Ungkapan Rasa Syukur

    TABANAN, Kilasbali.com – Weton adalah berasal dari kata wetu/metu yang lama kelamaan menjadi ucapan wetuan, dan kini fasih disebut weton.

    Weton ini di Bali identik dengan kelahiran bayi, yang menurut perhitungan kalender Bali hari lahir/weton tersebut diperingati setiap 210 hari sekali atau sering disebut dengan 6 bulan.

    Menurut perhitungan kalender Bali 1 bulan adalah 35 hari. Dalam peringatan weton ini digabungkan antara hari yang disebut dengan Sapta wara terdiri dari soma (Senin), Anggara (Selasa) Buda (Rabu), Wraspati Kamis) Sukra (Jum’at), Saniscara (Sabtu), Redite (Minggu) dengan panca wara yang terdiri dari Umanis, pahing, Pon, Wage, Kliwon.

    Perhitungan satu Minggu pada kalender Bali disebut wuku, yang dimulai pada hari Minggu, sedangkan jumlah wuku sebanyak 30 terdiri dari, Sinta, Landep, Ukir, Kulantir, Tolu, Gumbreg, Wariga, Warigadean, Julungwangi, Sungsang, Dungulan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Krulut, Merakih, Tambir, Medangkungan , Matal, Uye, Menail , Perangbakat, Bala, Ugu, Wayang , klau, Dukut, Watugunung.

    Baca Juga:  Serahkan Hibah Rp 2,1 Miliar di Tampak Gangsul, Bukti Konkret Komitmen Bupati Giri Prasta Ringankan Masyarakat Bali

    Pelaksanaan upacara otonan, atau wetonan memiliki makna mengucapkan rasa syukur kepada Ida.

    Peringatan Weton merupakan ungkapan rasa syukur kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa atas karunia-Nya kita terlahir kedunia ini sebagai manusia.

    Dengan menghaturkan puja pengastuti kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa melalui leluhur kita wajib bersyukur.

    Ungkapan rasa syukur ini di Bali biasanya diadakan upacara dengan menghaturkan sesajen/upakara di Merajan Kemulan, kemudian bagi yang melaksanakan peringatan hari kelahiran berupa weton memohon Tirta dengan disertai doa, agar menemukan keselamatan/kerahayuan, Dirgayusa (panjang umur).

    Selain itu wetonan memiliki makna pensucian diri serta penselerasan hubungan antara buana alit (badan kasar) buana agung (alam semesta).

    Upacara wetonan ini tergolong bagian dari manusa Yadnya dari lima Yadnya yang ada yaitu Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, manusa Yadnya, Pitra Yadnya dan buta Yadnya.

    Baca Juga:  Jelang Pilkada, Polda Bali Temui Diskominfos Bali

    Nah, bagaimana kalau orang yang memperingati otonan ada dirantau atau berada di tempat tugas yang jauh dari rumahnya?

    Ini bisa dilakukan dengan cara berdoa menyebut leluhur dan Ida Sanghyang Widhi Wasa, untuk memohon keselamatan kerahayuan. Jika ada di tempat kos di rantauan tidak ada pelinggih, bisa ngayat dan bersembahyang di hadapan pelangkiran, karena dalam hal ini semua bisa berlaku flexibel, terlebih lagi orang yang sudah memiliki kemampuan jnana yang tinggi tentu boleh melakukan peringatan weton dengan apa adanya, karena dari semua itu yang terpenting adalah doa, kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa melalui leluhur.

    Baca Juga:  Ini Dia Lima Seniman Terima Penghargaan Adi Sewaka Nugraha 2024

    Pelaksanaan peringatan weton antara satu tempat dengan lainnya mungkin ada perbedaan karena di Bali menganut sistem Desa kala Patra / Desa Mawacara, tergantung dari kebiasaan yang dilakukan pada keluarga tertentu atau di masyarakat masing-masing.

    Meski demikian maknanya dan tujuan dari pelaksanaan peringatan weton ini adalah sama. Demikian pula jika weton nemu hari Purnama atau Tilem kebiasaan yang berlangsung bahwa akan diadakan peringatan weton dengan upakara atau sarana upacara yang lebih besar.

    Maknanya pun sama melakukan pembersihan diri lahir dan batin, memohon kesucian jiwa dan angayubagia/bersyukur terhadap semua waranugraha Ida Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa.

    Punulis:
    AKP Purnawirawan I Nyoman Subagia, S.Sos, yang juga budayawan

    Back to top button