Seni BudayaTokoh

Kisah Maestro Gusti Nyoman Lempad Jadi Tauladan Generasi Muda

    DENPASAR, Kilasbali.com – Kriyaloka (Lokakarya) Seni Rupa ‘Karya I Gusti Nyoman Lempad’ dalam ajang Pesta Kesdenian Bali (PKB) berlangsung menarik. Para peserta yang kebanyakan para pecinta dan perupa muda itu, tak hanya hanya mendapatkan kisah seorang maestro seni rupa, tetapi juga pelajaran khususnya di bidang seni rupa.

    Paling tidak, sosok pelukis ternama memberikan tauladan melalui kisah dan karya-karyanya. Para peserta yang hadir di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (27/6) itu mendapatkan sesuatu yang lebih. Para peserta belajar dedikasi maestro Lempad menghasilkan karya-karya monumental yang hingga kini masih mengundang decak kagum.

    Kriyaloka dibawakan perupa I Gusti Nyoman Darta yang juga salah satu ‘cucu’ dari maestro I Gusti Nyoman Lempad. “Gusti Nyoman Lempad lahir pada 1862 di Desa Bedahulu. Ayahnya seorang undagi bernama I Gusti Ketut Mayukan,” kata Gusti Darta mengawali pemaparannya.

    Pada saat Lempad berusia 12 tahun, ayahnya mengajaknya pindah ke Ubud. Alasan pindah itu karena mereka difitnah. Mereka lalu, tinggak di Kerajaan Ubud. Kepiawaian Gusti Mayukan dan anaknya Gusti Lempad dalam membuat bangunan dan patung sangat berguna. Bangunan puri di Ubud merupakan hasil karya keduanya.

    Baca Juga:  Buku Weda Sebagai Tuntunan Hidup

    Atas jasa Gusti Mayukan dan Gusti Lempad, Puri Ubud memberikan sebidang tanah untuk ditinggali Gusti Mayukan dan keluarganya yang kini letaknya di Jalan Raya Ubud, Banjar Taman Kelod, Kelurahan Ubud, Gianyar.

    Memasuki usia sekitar 25 tahun Lempad memutuskan menikah dengan seorang gadis Gusti Nyoman Dapet namun tidak dikaruniai anak. Ia akhirnya menikahi adik istrinya Gusti Rai Tindih dan akhirnya dikaruniai 6 orang anak.

    Cerita berlanjut dengan pertemuan Lempad dengan pelukis Jerman Walter Spies sekitar tahun 1925. Spies pada akhirnya yang memperkenalkan teknik anatomi tubuh yang digunakan Lempad untuk mengembangkan karya-karya lukisnya yang banyak mengambil cerita pewayangan.

    Baca Juga:  Pemkab Tabanan Laksanakan Bhakti Penganyar di Pura Luhur Giri Salaka Alas Purwo dan Pura Mandhara Giri Semeru Agung

    Lempad banyak belajar tentang cerita pewayangan karena sering mengikuti kegiatan pembacaan lontar di Puri Saren Kauh. Lempad yang buta huruf selalu mengajak Gusti Darta untuk mengartikan lontar-lontar yang dibaca para pendeta yang datang. “Lukisan Pan Brayut adalah salah satu lukisan yang paling sering dilukis kakek,” ujar Gusti Darta.

    Selanjutnya datanglah pelukis Belanda Rudolf Bonnet. Bersama Raja Ubud Ida Cokorda Sukawati dan Walter Spies mereka membentuk komunitas seni Pitamaha. Lempad pula yang kemudian mendesain useum untuk memamerkan lukisan-lukisan pelukis Pitamaha yang sekarang bernama Museum Puri Lukisan di Ubud.

    Meski ada pengaruh gaya lukis barat seperti anatomi tubuh dan komposisi warna, menurut Darta kakeknya tetap kukuh dengan gayanya menggunakan tiga warna dalam lukisannya yakni hitam, putih, dan merah yang merupakan warna filosofis Brahma, Wisnu, Siwa.

    Baca Juga:  Buku Weda Sebagai Tuntunan Hidup

    Lempad meninggal tahun 1978. Hampir seluruh hidupnya selama 116 tahun digunakan untuk mengabdikan diri untuk Puri Ubud. Usai pemaparan, para peserta yang kebanyakan siswa dan mahasiswa seni pun diajak membuat sketsa bersama. “Kakek kalau bekerja sangat fokus. Sketsa dibuat kemudian dibiarkan selama tiga hari. Nanti kalau ada yang tidak cocok akan diperbaiki,” papar Gusti Darta. (rl/kb)

    Back to top button