DenpasarSeni Budaya

Dana PKB Dipangkas, Jantra Eksebisi Tak Ada 

    DENPASAR, Kilasbali.com – Jantra Tradisi Bali yang digelar bersamaan dengan Pesta Kesenian Bali (PKB), tak hanya menjadi ajang prestasi, tetapi juga sebagai media untuk bisa tampil. Jantra tradisi menjadi ruang bagi para remaja, khususnya bagi mereka yang menekuni olahraga tradisional.

    Itu sebabnya, peserta jantra tradisi tahun 2024 terus berkembang dari tahun-tahun sebelumnya. Jantra tradisional merupakan tahun ke-5 diikuti oleh semua kabupaten dan kota di Bali.

    Tahun 2024 ini, Jantra Tradisi dipusatkan di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung atau Lapangan Puputan Badung, dari sebelumnya di Lapangan Niti Mandala Renon Bali.

    Kegiatan jantra tahun 2024 ini, tak semeriah dari tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2023 lalu, ada permaian yang dipertunjukan khusus, bukan dilombakan.

    Sebut saja pada sebelumnya ada permainan Magoak-goak, dan pencak silat yang dapat disaksikan oleh pengunjung. Berbeda dengan tahun ini, eksebisi itu tidak ada, mungkin karena dana PKB itu dipangkas.

    Baca Juga:  Serahkan Hibah Rp 2,1 Miliar di Tampak Gangsul, Bukti Konkret Komitmen Bupati Giri Prasta Ringankan Masyarakat Bali

    Permainan yang dilombakan, yaitu Megala-gala (putra dan putri), Terompah (putra, putri) dan Deduplak khusus untuk peserta putra. “Sekarang ini lomba megala-gala dan deduplak.

    Sementara terompah dilombakan kemarin,” kata Kepala Bidang Tradisi dan Warisan Budaya Dinas kabudayaan (Disbud) Bali Ida Bagus Alit Suriana disela-sela kegiatan jantra tradisional Bali, Sabut (29/6).

    Pagi itu, anak-anak setingkat SMP telah siap-siap mengikuti lomba tersebut. Walau ini kegiatan olahraga, tetapi para peserta mengenakan kain untuk mempercantik penampilan. Bahkan, ada beberapa peserta yang mengenakan udeng, untuk hiasan kepala.

    “Ini terkait dengan budaya, sehingga kita ingin menanamkan itu melalui olahraga. Piala itu bonus, kalau menang. Intinya, ajang ini untuk menjaga persaudaraan. Atlet yang dari Denpasar akan kenal dengan saudaranya yang dari Jembrana, Buleleng dan daerah kabupaten lain,” ungkap Kabid Suriana.

    Kegiatan jantra tradisional Bali terus berkembang. Hal itu dapat dilihat dari peserta yang diikuti oleh semua kabupaten dan kopta di Bali. Pada tahun-tahun sebelumnya, ada yang mengikuti 1 cabang atau 2 cabang yang diikuti oleh 4 kabupaten dan kota atau 3 kabupaten dan kota. Berbeda dengan tahun ini sudah diikuti oleh 9 kabupaten dan kota yang ikut berpartisipasi. “Itu artinya pembinaa yang dilakukan di kabupaten dan kota semakin meningkat. Ketika membutuhkan atlet, kabupaten dan kota megirimkan atletnya,” imbuhnya.

    Baca Juga:  Ini Dia Lima Seniman Terima Penghargaan Adi Sewaka Nugraha 2024

    Menurutnya, partisipasi dari seluruh kabupaten kota dimulai dari tahun sebelumnya. Hanya saja di tahun ini, Kabupaten Karangasem dan Jembrana tidak mengikuti cabang secara keseluruhan. “Jantra Tradisi Bali ini merupakan kegiatan apresiasi budaya tradisi untuk penguatan dan pemajuan kearifan lokal, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, pengobatan tradisional, permainan rakyat dan olahraga tradisional,” jelasnya.

    Kegiatan jantra dimulai dari lomba deduplak, salah satu permainan tradisional berlari dengan menggunakan alat berupa alas kaki yang terbuat dari tempurung kelapa atau kayu dibentuk seperti tempurung. Permainan ini membutuhkan keterampilan bergerak dan keseimbangan tubuh dalam berlari. Lomba ini dilakukan secara estafet, sehingga tiang-tiap daerah menyiapkan 5 orang untuk satu regu.

    Baca Juga:  Bocah WNA Resahkan Warga Ubud, KPPAD Bali Minta Petugas Keamanan Bertindak

    Mula-mula satu anak berlari yang menempuh jarak sekitar 50 meter, sampai diujung digantikan dan berlari keujung lagi, lalu digantikan temannya, sehingga ada empat pergantian dalam saru lomba. Pada babak penyisihan pertama diikuti oleh 4 kabupaten untuk mencari dua pememang yang nantinya diadu dalam final. Kemudian babak penyisihan kedua juga mencari 2 pemenang, sehingga ada 4 peserta yang lomba dalam babak final.

    Selanjutnya permainan megala-gala putri. Untuk cabang ini, disiapkan dua tempat. Permainan ini dituntut kecepatan luas dan cerdas mengelabui lawan. “Keuntungan anak-anak mengikuti jantra tradisional untuk memberikan pemahaman kepana anak-anak remaja sebagai pewaris dari permainan anak-anak Bali, bagaimana filosofinya. Melalui permainan ini kita menjaga kesehatan, persatuan, menyama braya. Ini sejalan dengan tema PKB Jana Kerthi harkat manusia unggul,” paparnya. (rl/kb)

    Back to top button