GianyarSosial

Batu Apung Menepi, Ibu-Ibu Megais Rezeki di Pantai Gumicik

    GIANYAR, Kilasbali.com – Meski iklim kerap kurang menguntungkan, warga pesisir di Gianyar selalu punya alternatif untuk mengais rezeki. Seperti halnya ibu-ibu di pesisir Pantai Gumicik, Ketewel, Gianyar, mereka berlomba memungut batu apung yang menepi di pantai.

    Para ibu-ibu, rata-rata torehan 20 kg sehari, minimal Rp 100 ribu pun dihasil dalam setengah harinya dapat dikantongi.

    Memang, dalam sebulan terakhir ini nelayan di Pantai Gumicik,  Ketewel, Sukawati tidak bisa melaut.  Karena kendala angin masih kencang dan gelombang laut tinggi.

    Kondisi ini diperkirakan berlangsung sampai akhir Agustus mendatang. Namun, menariknya, warga setempat khususnya dari kalangan ibu-ibu rumah tangga setempat justru menuai berkah.

    Baca Juga:  Roadshow, Wisnu Temui Sulinggih dan Aktif di Medsos

    Arus laut mengirimkan batu apung di sepanjang pesisir. Kondisi ini dimanfaatkan istri nelayan memunguti batu apung tersebut.

    Warga Pantai Gumicik, Wayan Puja menyebutkan, sejak sebulan lalu batu-batu apung tersebut sudah dipungut ibu-ibu ini.

    “Mereka memungut batu apung di pagi hari, setelah memungut lalu kembali ke rumah aktivitas rumah tangga,” jelas Nang Uja.

    Disebut Nang Uja, ada belasan istri nelayan ini memunguti batu apung dan dimasukkan ke dalam karung beras. Dalam sekali pungutan bisa mendapatkan dua karung batu apung.

    Baca Juga:  Ruko dan Rumah di Gianyar Terbakar

    Memunguti batu apung tersebut sebagai pekerjaan sambilan selain sebagai ibu rumah tangga. Setelah terkumpul sampai belasan karung, mereka menghubungi pengepul batu apung dan dijual. Dimana perkilo batu apung dihargai Rp 5.000 dan dalam satu kampil hanya terisi 10 kg.

    “Ini berkah dari alam, tiap pagi berserakan di pantai dan kadang-kadang Ibu-ibu tersebut sambil memunguti sampah plastik,” jelas Nang Uja.

    Dikatakan lagi, bahwa pungutan batu apung tersebut legal, karena dibawa oleh laut dan kalau dibiarkan akan mengotori pantai.

    Nang Uja tidak tahu sampai kapan berkah batu apung tersebut datang ke Pantai Gumicik. Diperkirakan terjadi sampai berakhir masa angin kencang dan gelombang yang terjadi saat ini.

    Baca Juga:  Bhakti Sosial Kesehatan Lanud I Gusti Ngurah Rai di Buleleng

    “Yang jelas kondisi tersebut dimanfaatkan Ibu-ibu tiap pagi dan mendapat rejeki dari alam,” ujarnya.

    Sedangkan batu apung tersebut dibeli oleh perajin handicraft. “Informasinya dibeli oleh perajin dari Ubud, apakah dipakai kerajinan atau tepung kami tidak tahu,” jelasnya. (ina/kb)

    Back to top button