Astungkara, Kasus DBD Menurun Signifikan

Denpasar News Update
Foto: Kegiatan fogging di tengah pandemi

GIANYAR, Kilasbali.com – Di awal Tahun 2020 lalu, di mana saat Covid-19 belum merebak di Indonesia, kasus Demam Berdarah (DBD) tetap menjadi wabah Endemi yang lebih mematikan.

Namun, setelah pandemi Covid-19 kasus demam berdarah seakan tenggelam, meski kolaborasi dengan Covid-19 terus merengut korban nyawa. Syukurnya, kini kasus demam berdarah menurun signifikan.

Dari informasi yang diterima pada Kamis (11/3/2021), jumlah kasus demam berdarah di Kabupaten Gianyar mengalami penurunan signifikan.

Per Januari – Februari 2021 ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Gianyar telah mencatat 26 kasus. Padahal dalam bulan yang sama di tahun 2020, jumlah kasus sudah mencapai seratusan kasus.

Baca Juga:  Update Penanggulangan Covid-19, Sabtu 17 April 2021

Sementara pada Januari 2021, jumlah masyarakat terjangkit sebanyak 19 orang dan pada Februari sebanyak 7 orang. Lanjut pada Februari, kasus sebagian besar menyerang balita dan masyarakat di usia 15 tahun ke atas.

Sementara para anak-anak rentan usia 5 sampai 14 tahun nihil pada Februari. Namun pada Januari, kasus DBD didominasi anak rentang usia 5-14 tahun, sebanyak 6 kasus, dimana lima di antaranya adalah anak perempuan.

Baca Juga:  Kapolda Resmikan Polsek Denpasar Utara, Jaya Negara Ajak Optimalkan Sinergitas Pelayanan Kamtibmas

“Dibandingkan angka tahun 2020, jumlah kasus tahun ini jauh lebih sedikit. Sebab pada Januari 2020 sebanyak 132 kasus. Sementara per Februari 2020 juga sebanyak 132 kasus,” ungkap Kepala Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gianyar, Anak Agung Anom Sukamawa.

Disebutkan, demam berdarah merupakan suatu penyakit endemik. Karena itu, kasus ini terjadi setiap tahun dan menjangkiti warga setiap bulan. Namun ia menegaskan saat ini memang terjadi penurunan signifikan dibandingkan tahun lalu.

Menurunnya jumlah kasus kali ini, tak terlepas dari mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat dalam memberantas sarang nyamuk, serta kerja keras yang dilakukan oleh pra kader Jumantik.  “DB masih ada, karena termasuk endemik sehingga terjadi setiap tahun. Tapi saat ini tidak terlalu banyak,” pungkasnya. (ina/kb)