Dampak Corona, Suwat Waterfall Tutup

Gianyar
Foto : Suwat Waterfall, salah satu objek wisata yang ditutup lantaran corona.  

GIANYAR, Kilasbali.com – Dampak virus corona atau Covid-19 mulai dirasakan di Kabupaten Gianyar. Usaha wisata di Bumi Seni ini mulai tutup.

Ketua Pengelola Suwat Waterfall, Desa Suwat, Gianyar, Putu Darmendra mengatakan, mulai hari Kamis (19/3/2020), pihaknya akan memutuskan untuk menutup objek yang sedang naik daun ini.

Penutupan dilakukan hingga dua minggu depan, sembari memantau perkembangan sesuai arahan pemerintah. “Kami akan segera mengabarkan jika kondisi sudah membaik. Semoga wabah ini segera berakhir,” harapnya, Rabu (18/3/2020).

Hal senada juga dikatakan CEO Bali Swing dan Aloha Ubud yang menyatakan akan menutup usaha swing dan kopi luwaknya yang kerap menyedot wisatawan rata-rata seribu orang per hari ini.

Menurutnya, keputusan ini diambil setelah Gubernur Wayan Koster mengeluarkan keputusannya status siaga penanggulangan Covid 19 di Provinsi Bali.

“Meski Bali masih tetap terbuka sebagai destinasi pariwisata dunia. Kami juga tidak ingin  adanya kegiatan pengumpulan orang banyak sebagiman keseharian di tempat kami ini,” ungkapnya.

Atas penutupan ini, mereka juga mengunggah informasi penutupan ini di media sosial dengan harapan para koleganya, baik dari dari travel, pemasok serta pihak-pihak terkait memaklumi kondisi ini.

Sementara itu, pengerajin dan pengusaha menengah juga terkena imbas. Produknya banyak dibatalkan pelanggan.

Disi lain, pengerjaan pesanan sudah berlangsung yang notabena mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari bahan baku hingga ongkos buruh dan  biaya produksi lainnya.

Foto : Suwat Waterfall, salah satu objek wisata yang ditutup lantaran corona.

“Kami juga mempunyai tanggungan membayar kredit di Bank, kami tak sanggup membayarnya,” ungkap Komang Edy, Koorditanor Paguyuban pengerajin Desa Sebatu, Tegallalang saat mengadu ke kediaman anggota DPR Ri I Nyoman Parta.

Disebutkan, dampak  paparan  Covid 19 telah membuat usahannya terhenti, karena banyak pesanan yang ditunda. Mereka juga sedih dengan nasib para tukang ukir yang selama ini mengerjakan barang orderan.

“Kalau saya terus memproduksi, saya tidak sanggup membayar ongkosnya, tapi kalau saya hentikan, mereka sebagi buruh tidak akan lagi memiliki sumber pendapatan,” terangnya.

Menyikapi kondisi ini, Nyoman Parta yang merupakan anggota Komisi VI DPR RI meyakinkan akan secepatnya menyampaikan keluhan pengerajin ini kepada Bank BUMN BNI, BRI dan Bank penyalur KUR yg lainnya. Pihak yakin, menghadapi kondisi seperti ini, semua pihak harus saling membijaki.

“Pemerintah dan perbankan akan kami dorong untuk melakukan langkah antisipasi mengadapi gejolak dari masa-masa sulit seperti ini,” pungkasnya. (ina/kb)