Desa Adat Benteng Pelestari Budaya Bali

Buleleng Tokoh
Gubernur Bali, Wayan Koster

BULELENG, Kilasbali.com – Gubernur Bali Wayan Koster mengajak desa adat se-Bali agar bersikap tegas sebagai benteng pelestari kebudayaan Bali. Begitu juga dengan para bendesa adat, juga diminta agar tidak memberikan ruang kepada kebudayaan luar yang tidak jelas ajarannya, tidak jelas kebudayaannya, dan tidak jelas asal usul ilmu pengetahuannya dalam kehidupan di Bali.

Karena, lanjut Koster, berpotensi merusak tatanan budaya Bali yang notabene telah menjadi kebangaan, maupun menjadi andalan Pulau Bali yang memiliki keunikan tradisinya yang beragam.

“Jangan beri ruang sedikitpun bagi oknum, kelompok, atau orang yang mau merubah nilai adat istiadat, kesenian Bali dari ajaran yang menyesatkan. Kalau sampai rusak kebudayaannya, Bali akan tinggal nama saja,” tegas usai melakukan prosesi peletakan batu pertama ‘Nasarin’ Kantor MDA Kabupaten Bangli dan Kantor MDA Kabupaten Buleleng, Kamis (10/9/2020).

Baca Juga:  Koster Minta Lembaga Desa Adat Dikelola Baik, Lurus, dan Tulus

Untuk itu, pihaknya mengajak seluruh bendesa adat di Bali agar memperkokoh warisan budaya leluhur ini.

“Desa Adat sudah dijadikan target, bahkan di lembaga pendidikan mereka sudah masuk, sehingga ada murid, guru yang sudah kena kebudayaan dari luar, melalui buku agama juga mereka sudah masuk, sehingga saya mengambil posisi yang tegas bersama PHDI Bali dan MDA Bali untuk solid mempertahankan tradisi yang sudah menjadi warisan leluhur kita selama ini,” ajak Koster.

Lebih lanjut Koster yang telah menerbitkan Perda No.4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali ini, mengajak masyarakat Bali untuk berbangga menggunakan busana adat Bali.

Baca Juga:  Pemprov Bali dan Kemenkes Berkolaborasi

Karena dengan menggunakan busana adat Bali, kata Koster, maka sudah mampu membantu pengerajin kain tenun khas Bali di dalam meningkatkan produksinya dan sekaligus nilai ekonominya.

“Ayo lestarikan budaya kita, ini busana adat Bali yang gagah kita pakai, karena busana ini dibuat langsung oleh pengerajin lokal Bali. Agar hidup ekonomi para pengerajin busana adat di Bali, dan ekonomi rakyat bergerak, saya mohon beli kainnya ke pengerajin lokal kita, karena dengan pengunaan busana adat ini, tercatat omset mereka sudah naik dari 30 sampai 45 persen,” ujar Koster.

Gubernur asal Sambiran ini juga menekankan bahwa ‘kampanye’ memakai busana Bali ini, merupakan hasil nyata dari penerapan Pergub Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Penggunaan Busana Adat Bali.

Baca Juga:  Penerbitan Aturan di Masa Pandemi Bukan untuk Mencari Kesalahan Masyarakat

“Secara nasional (penggunaan busana adat Bali-red) merupakan implementasi nyata dari Program Tri Sakti Bung Karno yang salah satunya menciptakan kemandirian secara ekonomi atau ekonomi berdikari yang akarnya adalah kedaulatan rakyat,” pungkasnya. (rls/kb)