Desa Wisata Belimbing Sari, Wisatawan Nginep di Rumah Warga

Hiburan Jembrana Pariwisata
Foto: Peserta Edutrips tampak melihat hasil jepretan kamera di depan Gereja Belimbing Sari.

– Dari Edutrips We Love Bali, Program Kemenparekraf RI

JEMBRANA, Kilasbali.com – Usaha warga desa di Belimbing Sari, Melaya, Jembrana ini patut diajungi jempol. Pasalnya, desa ini kini sudah menjelma menjadi desa wisata yang ada di Bali. Padahal, desa ini terletak jauh diujung barat Pulau Bali. Di mana sangat minim wisatawan mancanegara yang berkunjung ke wilayah ini.

Namun berkat keuletan dan juga kerja keras warga desa, usaha membangun desa wisata pun berbuah manis. Di mana di tahun 2017 Kementerian Pariwisata mengganjar penghargaan Desa Belimbing Sari ini sebagai desa wisata terbaik di Indonesia.

Salah seorang pengelola Desa Wisata Belimbing Sari, Gede Sudigda menuturkan, awalnya di tahun 2004, dirinya yang berlatar belakang pariwisata, ingin mengembangkan potensi yang ada di desanya menjadi objek wisata untuk dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Baca Juga:  Dandim Jembrana: Sebagai Apkowil Harus Mempunyai Kemampuan Yang Handal Dalam Tugas Kewilayahan

“Potensi desa kami adalah rumah-rumah penduduk yang cukup besar dan luas untuk dijadikan home stay bagi wisatawan,” tuturnya.

Menurutnya, cikal bakal mendirikan wisata diawali saat dirinya bersama kepala desa dan juga kepala gereja serta paguyuban berkumpul membentuk panitia. “Kebetulan saya ditunjuk menjadi salah satu panitia. Jadi kami memulai pariwisata berbasis masyarakat. Semua dikerjakan masyarakat. Kami awali dengan tiga kamar,” ujarnya.

Baca Juga:  Pangdam Lantik 400 Prajurit Tamtama TNI AD

Seiring perkembangan jaman, lanjut dia, kunjungan wisatawan pun berkembang. Dampaknya, hampir setiap rumah warga pun kini telah memiliki kamar untuk disewakan. Bahkan ada yang memilki hingga lima kamar. Di mana jumlah penduduk di desa ini sebanyak 167 KK.

“Sekarang kami sudah ada kategori kamar. Ada suite karena ada kolam renang, ada pakai AC yang kami sebut deluxe, hingga kamar standar yang hanya memakai kipas angin,” sebutnya.

Pemasaran selain ke mancanegara, pihaknya juga mengandeng perguruan tinggi seperti Unud, Undira dan juga STP. “Jadi wisatawan yang menginap disini, berbaur dengan masyarakat dan itu yang disenangi oleh mereka,” lanjutnya.

Baca Juga:  Donor Darah Peringati Sumpah Pemuda

Ditambahkannya, wisatawan pun disuguhi atraksi budaya, seperti jegog dan juga gong. “Jadi kami lebih menonjolkan budaya. Namun, juga tergantung permintaan mereka,” bebernya.

Selain itu, lanjut dia, juga ada wisata spiritual. “Kami memiliki gereja yang sangat unik, yakni berarstiktur Bali. Persis seperti pura. Jadi kami ibadah pakai pakean adat, gambelan, dan juga bahasa Bali. Ini yang menarik,” tandasnya.

Namun di tengah pandemi Covid-19, desa ini kini sepi pengunjung. Menyikapi hal itu, Kemenparekraf RI melakukan Edutrips We Love Bali, Senin (12/10/2020).

Dengan program ini, Kemenparekraf berharap mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke desa ini. (jus/kb)