Diduga Tanpa Izin, Galian Tanah Timbun Bendungan dan Beji Desa Keliki

Gianyar
foto : Tanah proyek yang menimbun Bendungan Ubud di Desa Keliki.

GIANYAR, Kilasbali.com – Sebuah proyek penataan tanah tepatnya di pinggir Sungai Wos di Desa Keliki, Tegallalang, dikeluhkan warga. Pasalnya, tanah dari bekas penataan lahan, dibuang begitu saja ke Bendungan Irigasi Dam Ubud. Bahkan tanah buangan itu menimbun kawasan suci Pura Beji setempat. Pemandangan ironis yang merusak lingkungan ini pun menjadi bidikan camera ponsel pengguna jalan dari atas jembatan Keliki, dan diunggah ke media sosial dengan harapan pihak terkait segera bersikap.

Dari keterangan yang dihimpun di lokasi, Rabu (27/5/2020), proyek penataan lahan di pinggir Sungai Wos, Keliki, Tegallalang itu sudah berjalan sekitar dua minggu. Namun, dalam beberapa hari belakangan ini justru tidak ada lagi aktivitas.

Diduga para pekerja yang sebagian besar orang luar Bali, sedang mudik atau libur Hari Raya Lebaran. Dalam kondisi ini pula, kondisi semakian parah lantarn guyuran hujan.

Baca Juga:  Operasi Yustisi di Tabanan, Tim Jaring 497 Pelanggar

Tanah langsung meluber ke areal sekitarnya, bahkan menutupi saluran air, dan menimbulkan luapan air di jalan setapak menuju pura Beji.

Salah seorang warga Desa Keliki, Wayan S, warga tidak mengetahui mengenai penataan lahan di pinggir sungai tersebut. terlebih hingga kini tidak ada sosialisasi ke setiap banjar.

Warga pun menyesalkan sikap arogan pihak pelaksana proyek yang senaknya membuang tanah tersebut ke arah bendungan DAM Ubud dan menimbun areal Pura Beji.

Lantaran tidak ingin berbenturan dengan pelaksana proyek yang notabena dari desa setempat, sebagian warga pun menyampaikan keluhannya melalui media sosial.

Baca Juga:  Tetap Disiplin, Transmisi Lokal 144 Orang

“Bendungan itu mengairi persawahan di Wilayah Ubud dan beberapa di Tegallalang bagian selatan. Kami harap ini segera disikapi karena benar-benar meresahkan warga,” ungkapnya.

Plt Camat Tegallalang I Komang Alit Adanyana membenarkan adanya proyek penataan lahan tersebut. Dirinya yang sering melintas di jalur tersebut juga mengaku terperangah melihat aktvitas proyek yang merusak lingkungan itu.

Karena itu, pihaknya mengaku sudah sempat langsung mempertanyakan keberadaan proyek tersebut ke Perbekel Keliki.

“Dari koordinasi kami ke aparat Desa, proyek itu dipastikan tanpa izin. Kami pun sudah sempat ke lokasi saat masih ada aktivias. Namun pihak buruh proyek tidak mengetahui pemilik lahan dan peruntukannya. Kalau sekarang memang sepi tidak ada aktivitas dalam berapa hari belakangan ini,” ungkapnya.

Baca Juga:  Aparat Keamanan Bersinergi Bergerak ke Pelosok Desa Lakukan Operasi Yustisi Cegah Penyebaran Covid-19

Atas kondisi ini, Alit Adnyana juga menyebutkan sudah berkoordinasi dengan Kepala Badan Penanaman Modal Perijinan Terpadu Satu Pintu (BPMPTSP) serta Kepala Dinas Pol PP dan Damkar Gianyar.

“Kami pastikan proyek itu tidak ada izinnya. Kami sudah informasikan ke Perijinan dan Pol PP untuk tindakan selanjutnya,” terannya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pol PP dan Damkar Gianyar, I Made Watha mengakui sudah menerima laporan terkait keluhan warga atas keberadaan proyek itu. Dari koordinasi dengan aparat terkait dibenarkan pula jika proyek itu belum mengantongi izin.

“Kami sudah turunkan personil ke lokasi sembari berkoordinsi dengan Perbekel setempat. Ini juga menyangkut sepadan sungai yang menjadi kewenangan provinsi, sehingga akan kami koordinasikan pula,” terangnya singkat. (ina/kb)