Festival Yoga dan Silat Bali Kuno, “Jembatan” Kenalkan Potensi Wisata Megati

Ceremonial Hiburan Tabanan
Foto: Atraksi pencak silat dalam festival di Desa Megati.

TABANAN, Kilasbali.com – Satu setengah tahun sejak terbitnya Surat Keputusan tentang Desa Wisata Megati, akhirnya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sesandan Heritage Desa Megati mengelar Festival Yoga dan Silat Bali Kuno yang berlangsung selama satu hari di desa ini, Jumat (12/7/2019).

Ketua Pokdarwis Gede Sukarya mengatakan, tahun pertama sejak terbentuk, pihaknya belum sanggup membuat festival, karena  terkendala masalah perencanaan, dana, SDM sebagai pantia, dan juga fasilitas.  “Syukurnya tahun ini kami berhasil kendatipun sesungguhnya dari segai anggaran, itu sama sekali tidak dianggarkan dari desa. Mudah-mudahan tahun depan dianggarkan,” katanya.

Menurutnya, karena tidak ada anggaran, festival ini pun disupport oleh para sponsor, dan juga kolega yang ada di desa ini. “Sesungguhnya, festival ini hanya sebuah jembatan. Tujuan utama kami adalah mengenalkan potensi wisata yang ada di lingkungan Desa Megati, dan bagaimana kami bisa menarik calon wisatawan untuk berkunjung ke sini,” bebernya.

Dalam kesempatan itu, pihaknya juga memohon maaf karena dalam festival ini belum bisa merangkul masyarakat secara keseluruhan. Khususnya terkait kuliner dan stand kerajinan yang belum bisa disiapka, mengingat perencanaannya sangat mendadak. “Tahun depan, kami sudah berjanji kepada masyarakat bahwa itu akan menjadi prioritas,” sebutnya.

Sementara terkait ikon desa ini yang saat ini sudah mulai didatangi wisatawan mancanegara karena ketertarikan terhadap yoga. Sehingga pihaknya menggelar Festival Yoga Bali Kuno. Disamping itu, pencak silat yang ada di desa ini yang pada tahun 1970an disebut Pengklu, yang tentunya dengan gerakan mendasar dan seni di dalamnya, sehingga seni bela diri itu diselipkan dalam festival ini.

Menurutnya, yoga dan pencak silat ini dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi daya tarik unggulan desa ini, disamping keindahan alamnya dengan pemandangan sawah berundak, kemudian ditambah tradisi masyarakat tentang membuat minyak kelapa secara trdisional, membikin canang, dan juga masakan khas bali. “Di sini kami punya sambel bongkot, jukut candung,” ujarnya.

Saat ini, di desa ini terdapat enam home stay dengan 25 kamar yang diperuntukan bagi wisatawan asing untuk menginap, dan sekaligus melihat secara langsung aktifitas keseharian masyarakat. Sehingga wisawatan yang datang betul-betul interaksi dengan masyarakat. Dimana paket wisata dikemas sedemikan rupa, mulai dari akomodasi, makanan, atraksi tournya, serta yang lainnya.

Wisatawan hampir dari seluruh dunia, Asia, hingga domestik. Kebanyaka Australia, Eropa, Kanada, India, Pilipina, dan Singapura. Mereka individual antara dua sampai empat orang. “Jadi belum bergrup. Karena pemasaran baru di internet saja,” ungkapnya.

Dari catatanya, dalam  satu bulan rata-rata wisawatan yang berkunjung sebanyak 20-30 orang. Di mana wisatwan itu datang menikmati desa ini sejak 20 tahun silam. Sejak saat itu, masyarakat memulai membuat  home stay denagn berbekal pengalaman bekerja di pariwisata.”Karena ada program pemerintah, kita mengajukan Pokdarwis untuk mendukung segala aktifitas kepariwisataan. Kemudian satu setengah tahun lalu diberikan SK sebagai Desa Wisata,” katanya. (kb)